Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Obat Malas?



Ada sebuah pertanyaan yang menarik dari salah seorang adik kelas saya di kampus. Ia bertanya saat dalam sebuah forum diskusi. Kurang lebih begini pertanyaannya..

Mbak, gimana sih cara ngatasin males? Sebenernya udah ada niat gitu buat ngelakuin, tapi susah banget geraknya. Tapi niat mah udah bulet”, tanyanya sambil menampilkan wajah resah akan keluhannya terhadap permasalahan yang dihadapi.

Sontak saya tersenyum, merasakan juga apa yang adik kelas saya rasakan. Hanya saja, mungkin karena saya lebih tua sehingga perang melawan malasnya mungkin jauh lebih banyak dan sedikit lebih berpengalaman, heheh.

Jadi begini, pada dasarnya pertanyaan bagaimana cara menghilangkan malas tidak bisa dijawab dengan menggunakan sebuah pernyataan saja. Tidak seperti ilmu matematika yang jika diberi rumus A maka akan langsung ketemu jawabannya. Paling banter kalau nggak langsung ketemu, ya pakai rumus turunan dan endingnya akan ketemu juga dengan jawaban yang sama.

Namun dalam kasus persoalan “malas” ini, tidak bisa serta merta hanya mengatakan “Males ya dilawan. Jangan mau kalah”. Maka rasanya jawaban itu terlalu simpel dan hambar. Semua juga tau kalau malas dilawan. Maka pertanyaannya jadi bertambah “cara ngelawannya gimana?”. Hmmmm..

Pada dasarnya segala kebaikan itu pasti berat saat dilakukan. Mengapa? Karena syetan akan selalu menggoda dari arah manapun dan dalam kondisi apapun. Itulah mengapa jihad yang paling sulit ialah jihad melawan hawa nafsu, melawan hawa-hawa negatif dan berperang melawan syetan. Tatkala malas itu menghadang, percayalah bahwa semakin banyak energi yang kita keluarkan untuk suatu kebaikan, maka semakin banyak pula pahalanya. Energi yang besar tentu pahalanya juga besar.

Berbeda halnya saat kita hendak melakukan suatu kemaksiatan. Hal-hal yang sekiranya kurang bermanfaat sebut saja nongkrong, pacaran, dan lainnya, tentu rasanya sangat mudah, karena syetan mendukung dengan seluruh daya upayanya. Membisikki kita dari berbagai arah. Mendorong dengan semangat luar biasa agar kita terjerumus dalam kubang kemaksiatan. Mudah sekali rasanya karena memang tidak membutuhkan energi yang lebih atau bahkan tanpa mengeluarkan energi. Karena memang tidak ada pahalanya, sehingga energi melawan hawa nafsunya pun tidak perlu dikerahkan.

Maka, jawaban atas pertanyaan “Cara Mengatasi Malas” adalah kembali pada penyelesaian kita masing-masing. Setiap orang punya caranya masing-masing, namun yang harus menjadi semangat utama saat malas itu melanda adalah “PAHALA BESAR, ENERGI JUGA BESAR”. Perkara hal apa yang harus dilakukan, itu kembali ke diri kita sembari diiringi dengan doa, “Yaa Allah, jangan bikin saya males ya Allah. Ya Allah, berilah saya semangat ya Allah, agar waktu saya bisa dipergunakan dengan baik. Yaa Allah, males itu nggak enak, tolooonglah hamba Yaa Allah, toloooong”.. Demikianlah doanya. Doa versi kita masing-masing. Karena sesungguhnya malas kita berasal dari Allah dan semangat kita pun dari Allah, dan Allah adalah sang Maha Membolak-balikan hati .

Insya Allah deh, saat kita menyerahkan segalanya ke Allah dan sedikit-sedikit ngadunya ke Allah, maka insya Allah ada aja solusinya. Entah kita dipertemukan dengan seseorang, diperlihatkan sesuatu, ditegur lewat video, buku, teman, dan lainnya. Jangan berpikir terus gimana caranya. Kalau kata Aa Gym, stress itu kebanyakan mikir dan kurang dzikir, pun dengan malas. Syaratnya adalah yakin 100% bahwa Allah yang akan memberikan solusi, bukan yang lainnya. Adapun jika saat malas kemudian dipertemukan dengan sesuatu yang biasa disebut “moodboster”, maka jangan sampai mengatakan gara-gara moodboster jadi nggak malas lagi. Bukan demikian, karena sebaik-baiknya moodboster adalah Allah. Kalau moodbosternya es krim, bukan karena es krimnya yang bikin tenang, tetapi Allah. Allah yang memberikan kita rezeki untuk makan es krim, maka Alhamdulillah, atas izin Allah jadi tenang lewat es krim. Es krim hanya perantara saja, bukan penyebab utama. Karena penyebabnya tentu Allah :)

Jadi, kalau malas, kuncinya adalah : Ingat Allah, yakin bahwa pahala besar membutuhkan energi yang besar pula.

Adapun doa yang diajarkan oleh Rasulullah yang biasa dilantunkan saat dzikir pagi dan petang. Berikut doanya :

“Allahumma inni a’uudzu bika minal hammi wal khazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa ’auudzu bika minal jubni wal bukhl, wa ‘auudzu bika min gholabti daini wa kohrirrijal

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari rasa gelisah dan sedih, kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan orang”


Wallahualam.

#8th30DWC   
0

MAAF


Maaf, barangkali apa yang kuucapkan selama ini tidak seperti apa yang telah kulakukan.

Maaf, barangkali nasihatku yang tidak kau amini menjadikan amarahku tak tertahankan.

Maaf, barangkali, ucapanku hanya bualan dan angan seperti debu yang diterbangkan.

Karena sejatinya, aku tahu bahwa sebenarnya hal yang paling utama ialah memberikan teladan, bukan sekedar ucapan. Sayangnya, aku terlalu naif. Ketidak mampuanku menjadikan kalimat untuk beralasan.

*

Maaf, untuk telingaku yang tak tahan dengan kebaikan,

Maksud hati, aku memahami. Tetapi prasangka tak bisa dibohongi.

Prasangkaku terlalu kuat untuk menolak.

Maaf, sekarang aku mengerti bahwa sejatinya  aku harus lebih banyak mendengar, bukan berujar

*

Maaf, untuk lisanku yang terlalu aktif bekerja.

Menjadikannya siang malam penuh canda dan tawa, seaka lupa bahwa esok ia akan ditanya oleh Sang 
Maha Kuasa

Maaf, untuk lisanku yang mudah berubah dari satu kata ke kata yang lain. Maksud hati ingin menyampaikan kebaikan, tetapi justru sebaliknya. Tidak berguna.

Maaf, seharusnya aku bisa memilah kata yang tepat, bukan berkata seenak jidat

*

Maaf, untuk kehadiranku yang barangkali tak kau harapkan,

Maksud hati ingin meneduhkan, namun malah merusak pemandangan.

Maaf, kiranya hadirku dapat memberikan bantuan, malah menjadi masalah semakin tak karuan.

*

Maaf, untuk kesekian kalinya.

Apalah dayaku, karena memang ini yang hanya bisa ku lakukan.

Maaf. Sungguh… untuk berkata maaf, akupun harus banyak berlatih. Tak mudah untuk mengucapkan sepenuh hati, namun aku tetap percaya bahwa sesekali ia menjadi solusi.


Ya Rabb, tak ada nikmat yang bisa kurasakan hingga sekarang tanpa izinMu. Tak ada kebaikan apapun yang menandingi kebaikanMU. Dan tak ada satupun hamba yang memiliki persedian memaafkan, selain Engkau, Sang Maha Pemaaf.

Kami yang selalu tidak sabar menunggu Kau kabulkan doa, sementara Engkau selalu sabar menunggu kami bertaubat.

Maaf, Ya Rabb..


-@anindyarizfa-
0

Menelisik Keikhlasan


Kita tidak pernah tahu, mana amalan kita yang diterima Allah, dan mana yang tidak diterima. Mana yang menurut Allah tepat, dan tidak, dan bahkan kita tidak tahu mana yang benar-benar karena Allah dan mana yang dilakukan karena alasan selain Allah. Karena pada dasarnya, manusia hanya bisa mengupayakan kebaikan hingga kebaikan itu menjadi kebiasaan yang bermanfaat.

Selanjutnya soal keikhlasan. Ini pun sama, kita tidak tahu mana yang benar-benar ikhlas karena Allah dan mana yang ikhlas karena ingin dipuji atau ingin hal lainnya. Tipis sekali. Kilatan-kilatan hati itu sungguh sangat halus. Tidak terlihat bahkan lebih kecil dari atom. Mungkin ini biasa disebut dengan quantum. Quantum merupakan suatu hal terkecil, yang bahkan tidak terlihat namun bisa dirasakan tetapi tidak terdefinisikan. Ya, ini soal rasa, soal getaran hati yang menyusup dalam sanubari.

Kemudian antara syirik dan riya. Erat sekali kaitannya dengan sejauh mana kekuatan tauhid kita. Syirik kecil dan syirik besar, hal yang kerap kali kita lakukan namun tidak kita sadari. Syirik kecil, tatkala kita melakukan sesuatu bukan karena Allah melainkan karena kepentingan lain. Seperti kita kecil dulu. Mau disuruh ibu asal ada imbalannya. Kalau nggak ada imbalan, nggak jalan. Ini termasuk golongan syirik karena melakukannya bukan untuk mendapat pahala tapi untuk mendapat imbalan. Celakanya, ini terjadi hingga kita sudah dewasa. Kalau syirik besar? Wah sudah jelas, saat kamu mengalami suatu kejadian dan menganggap kejadian itu bukan karena Allah atau meyakini ada kekuatan lain selain Allah. Naudzubillah.

Pun dengan riya, yakni meninggalkan sesuatu bukan karena Allah. Banyak mikir saat hendak melakukan kebaikan dan akhirnya nggak jadi melakukan kebaikan karena takut dicap ini dan itu. Seperti dulu saat awal-awal hijrah. Inginnya buka Qur’an di tempat umum, memanfaatkan waktu untuk tilawah. Namun saat pertama kali rasanya ada kesan malu dilihat orang, takut dikatakan sok alim, sok suci, dll. Lantas apa yang terjadi kalau pada akhirnya hal baik itu nggak jadi dilakukan? Maka itu termasuk kategori Riya, karena meninggalkan sesuatu bukan karena Allah melainkan takut dikomentarin orang.

Lantas,bagaimana dong biar nggak syirik dan nggak riya? Ya, inilah PR terbesar manusia setiap hari dan setiap saat. Lagi-lagi kita tidak pernah tahu hal mana yang ikhlas karena Allah, maka alangkah baiknya tetaplah melakukan kebaikan itu sambil meyakinkan diri bahwa ini semua untuk Allah. Memperbanyak istighfar agar kilatan-kilatan hati untuk senang dipuji perlahan Allah hapuskan. Terus berkata pada diri “Ya Allah, ini untukMu. Ya Allah, jagalah hati hamba. Ya Allah, luruskanlah niat hamba. Ya Allah, jagalan hamba”. Demikian lah doanya. Niat sampai kapanpun bisa saja menjadi berbelok karena memang tugas syetan ialah mengusik hati manusia. Kalau kita banyak mikir, banyak pertimbangan untuk hal yang jelas-jelas baik, maka barangkali akan menjadi kebiasaan dan akhirnya menunda atau bahkan tidak melakukan kebaikan apapun. Lakukanlah kebaikan itu dengan diiringi doa agar selalu dijaga dari bahtera ujian berupa pujian. Selalu berdoa agar Allah luruskan niat ditambah dengan istighfar sesekali hati merasa melayang saat dipuji. Ya, memang membersihkan hati harus setiap hari. Maka beruntunglah orang-orang yang senantiasa membersihkan hatinya dan menyadari bahwa kehinaan dirinya jauh lebih besar dibanding kebaikannya.

Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahablanaa milladunka rohmatan innaka Antal Wahhaab. (QS. Ali Imran : 8)

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. Karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberia (karunia)"


Wallahualam.
#5th30DWC


0

Delay for Decission Making (Part 1)



Pernah merasa bosan menunggu? Apapun itu, baik menunggu teman, panggilan kerja, kesuksesan bisnis, atau mungkin jodoh (?). Yap, masa tunggu ini bisa disebut dengan istilah delay. Tapi, tahukah kamu seputar keajaiban delay tersebut? Mengapa Allah membiarkan kita menunggu dan terkesan membuat kita tidak jelas arah hidupnya. Padahal, saat-saat inilah sebenarnya Allah tengah menguji seberapa besar keseriusanmu.

Delay juga merupakan bagian utama saat engkau hendak melakukan hal apapun. Berbisnis, memilih sekolah, memilih pekerjaan, dll. Delay yang dimaksud disini ialah bukan hanya menunggu, melainkan sebuah jangka waktu untuk meraih “hati” Allah SWT agar semata-mata apa yang kita lakukan hanya untukNya. Misalnya begini, saya hendak membangun sebuah usaha karena saya memiliki keinginan untuk menjadi seorang pebisnis. Berbagai macam ide usaha telah diciptakan, namun apakah semua ide itu cocok untuk dijalankan? Apakah itu bisa bermanfaat untuk saya dan orang lain? Apapkah itu memiliki prospek bagus untuk kedepannya? Nah, maka dari itulah, untuk memantapkan hati, kita membutuhkan proses delay, yakni proses bertanya pada Allah. Masa delay ini bisa kita lakukan dengan berbagai hal. Riyadhoh atau amalan-amalan kebaikan seperti shalat wajib di masjid, sunnah, puasa, sedekah, dll. Delay ini adalah salah satu proses kita untuk menentukan dalam pengambilan keputusan, apakah ide yang kita ciptakan dan hendak di eksekusi hanya nafsu belaka, atau memang benar-benar karena Allah.

Masa-masa delay inilah yang juga wajib diterapkan kepada para pelaku start-up dalam hal ini untuk memperbanyak melakukan amalan diawal. Membeli risiko/rintangan di awal. Maksudnya? Ya, boleh jadi saat proses delay kita lakukan dengan sebaik mungkin itu dapat membeli kegagalan atau hambatan kita. Misalnya begini, saat hendak membuka suatu usaha, kita memilih jalur sedekah, sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Meski profit belum seberapa, namun sedekah tetap konsisten dijalankan dan doa senantiasa dilantunkan dan mempercayakan agar selanjutnya Allah yang tentukan. Nah, setelah hal tersebut dilakukan, boleh jadi Allah langsung balas dengan percepatan rezeki dengan keuntungan melimpah, atau justru rugi. Baik untung maupun rugi, keduanya merupakan cara Allah menjawab doa kita. Kita tetap membeli risiko diawal. Ketika balasannya percepatan rezeki, tentu kita tidak akan ragu lagi. Namun jika balasannya justru rugi dan malah modal menjadi habis tak tersisa? Bagaimana? Nah, ini poin pentingnya. Boleh jadi saat kita tidak melewati fase delay untuk bertanya pada Allah, justru kita semakin parah hambatannya. Bukan hanya modal saja yang habis, melainkan hingga minus alias terlibat hutang. Bisa sajakan? Tetapi malah Allah hanya cukupkan sampai tahap habisnya modal. Dengan proses delay ini, Allah jadikan kita menjadi hamba yang semakin taat dimana ikhtiar atau usahanya hanya sebatas lintasan namun hatinya tetap pada Allah.

Contoh lain misalnya urusan jodoh. Ada seorang lelaki yang menikah usia 25 tahun. Kemudian pada usia 30 tahun, ia bercerai karena prahara rumah tangganya. Kemudian pada usia 33 tahun, ia kembali diperkenankan oleh Allah untuk menikah kembali dan keluarganya menjadi sakinah, mawaddah, warohmah. Jika demikian, lantas lebih baik yang mana? Nikah 25 tapi cerai, atau nikah 33 tahun tapi langgeng? Yang jelas bukan keduanya, inginnya kan nikah umur 25 dan langgeng kan? Betul? Nah, maka disinilah proses delay diberlakukan. Boleh jadi, saat kita hendak memutuskan menikah di usia 25 tahun, kita tidak terburu-buru melainkan melakukan proses delay untuk bertanya pada Allah terlebih dahulu. Maka, boleh jadi Allah memberikan jawabanNya untuk kita menikah di usia 27 tahun dan langgeng. Itulah proses pengambilan keputusan dengan menggunakan tahapan delay.

Maka sahabat-sahabat, selalu sertakan Allah dalam segala niat amal perbuatan kita. Karena, bahwasannya apa yang hendak lakukan merupakan bentuk ibadah kita terhadap Allah. Tak peduli bagaimana takdir pencapaian kesuksesan kelak, namun yang terpenting adalah seberapa kuat energi kita dalam melakukan amal kebaikan. Karena takdir kesuksesan hanya Allah yang berhak menentukan, kita hanya wajib dalam mengupayakan, bukan menentukan.

***

Referensi sumber dari Prof. Deddy , Direktur Wisata Hati Center. Salah seorang guru yang berdedikasi dalam bidang ekonomi dan diterapkan untuk membantu audara-saudaranya dalam membangun spiritual company :)

Insya Allah, ada lagi tahapan-tahapan pengambilan keputusan berikutnya. Mudah-mudahan diberi kesempatan oleh Allah lagi untuk senantiasa berbagi yaaa :)

#4th30DWC



0

Tentang Tuhanku


Tidak akan pernah ada habisnya orang-orang yang tengah dirundung malang nasibnya terkait ujian yang diberikan oleh Tuhannya. Tidak ada habisnya sumpah serapah yang dilontarkan terhadap nasib buruk yang menimpanya. Pun saat kebahagiaan mulai menyelimutinya, rasa keangkuhan jelas terlihat dari sorot matanya. Menandakan seolah-olah sedang mengatakan “Lihat, aku mampu, yang lain tidak. Lihat, aku bisa membuktikannya”, seakan hidup ini semata-mata hanya membutuhkan pengakuan orang lain, bukan untuk mencari ridhaNya.

Sejatinya kehidupan ini ditentukan oleh sejauh mana kita telah mengakui bahwa Allah adalah zat yang maha segalanya. Menggantungkan segala sesuatu hanya padaNya. Tidak peduli sekuat apa manusia, sekuat apa hartanya, sekuat apa tenaga dan kekuasaannya, namun ada yang lebih dari itu. Ada yang lebih menguasai segala sesuatunya. Jika kita bisa mendekatiNya, menggantungkan segala urusan padaNya, maka bagiNya tidak ada yang tidak mungkin, seperti halnya Maryam putri Imran yang ditiupkan ruh manusia ke dalam kandungannya sekalipun ia masih perawan. Sungguh, kuasa Allah tidak akan pernah ada tandinganNya.

Keindahan alam semesta ini tak pernah tergantikan dengan apapun. Jalan layang yang tengah dibangun dengan material beton yang kokoh,  kereta bawah tanah dengan tekologi canggih, pesawat terbang yang mampu menembus belahan dunia, dan lainnya, sesungguhnya itu tidak ada bandingannya dengan kuasa Allah. Coba saja kau bayangkan, membangun jaan layang memakan waktu bertahun-tahun dengan dana yang tidak sedikit, kereta bawah tanah dengan teknologi super canggih disertai para manusia terpilih yang bertangan dingin, juga pesawat terbang, masih belum ada apa-apanya dengan Allah yang menciptakan dunia dan seisinya dalam waktu 6 hari saja! Ya, hanya 6 hari saja. Pesawat sedemikian rupa diciptakan, namun tidak ada yang bisa menandingin kecanggihan burung yang tanpa disentuh alat sekalipun ia tetap bisa terbang membelah langit biru.

Itulah kuasa Tuhanmu yang perlu kau sadari betul. Pun dengan merenungi bahwa yang melekat pada tubuhmu, mata telinga, hidung, mulut dan bagian tubuh lainnya adalah milikNya. Titipan yang harus kau jaga. Tidak ada sedikit pun kesombongan yang bisa kita lontarkan sedang sebenarnya kita tak memiliki apa-apa.

Maka sahabatku, dengan demikian mulailah kembali memikirkan nasibmu kelak di akhirat dengan menjadikan dunia menjadi lading ibadah. Kau tahu agar makan, minum, dan bekerjamu dinilai ibadah olehNya? Cukup ucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” bahwasannya kau melakukan segala sesuatu atas izinNya, serta tidak meninggalkan ibadah wajib yang utama. Pun dengan sunnah-sunnah yang kau tambah sebagai penyempurna. Buku manual kehidupan bernaama Al-Qur’an lekaslah kau pelajari, sebagai bekalmu dalam menentukan kaidah-kaidah dalam kehidupan dan pemisah yang haq dan yang bathil.


Wallahualam.
0

Jadi, Apa yang Harus aku lakukan?



Aku semakin tersentak dalam lamunanku saat melihat pemberitaan di media kini. Propaganda muslim yang kian di ombang-ambingkan. Pemutar balikan logika dimana yang benar menjadi salah, pun sebaliknya. Belum lagi, kekerasan pada anak yang semakin merajalela. Kasus korupsi yang semakin menjadi namun tidak berdaya dalam melakukan pemberantasan meski “katanya” itu adalah komisi yang berwenang.


Aku kembali membuka sejarah..

Nampaknya, hal ini sudah pernah terjadi dan bahkan memang tak pernah usai. Hanya saja, aku terlambat menyadarinya. Propaganda muslim itu, sudah ada sejak zaman rasulullah. Tatkala Kafir Quraisy yang tidak segan memboikot bani Hasyim dan bani Abdul Muthalib dalam melakukan perjual belian sehingga mereka sulit mendapat bahan makanan dan tinggal di celah-celah pegunungan batu. Bahkan hingga 3 tahun! Itu semua berawal dari musuh-musuh islam yang benci dengan dakwah rasulullah. Belum lagi, ancaman pembunuhan yang setiap hari kian dilontarkan dan perbuatan keji lainnya yang membuat umat muslim semakin menderita. 

Jika dahulu yang memaki umat muslim jelas-jelas musuh islam (kafir Quraisy), namun kini yang lebih menyakitkan lagi dimana yang menjauhkan muslim dengan agamanya adalah muslim itu sendiri. Ya Allah, sesak rasanya. Memang, semua itu berhasil diciptakan oleh propaganda yang telah dilontarkan berabad-abad silam dan berangsur meningkat seiring dengan lemahnya mental umat muslim yang semakin jauh dengan agamanya. 

Mungkin kita tak bisa merubah keadaan, namun kita masih bisa mengusahakan. Allah masih setia menunggu hambaNya yang senantiasa hendak kembali terhadap ajaran yang sesungguhnya. Ya, doa.
Namun, doa tanpa usaha itu mustahil. Masih ada yang bisa kita lakukan. Jika kita tak bisa merubah dunia, setidaknya kita masih bisa membentuk generasi penerus kita. Memperbaiki diri untuk mengantarkan generasi penerus perjuangan kelak. Senantiasa bersabar dalam berdakwah untuk menyampaikan kebenaran. Tidak melulu seputar pemenuhan diri, karena ada kewajiban yang harus kita penuhi. Menggigit erat jalan dakwah ini. Ya, prajurit Allah yang senantiasa membela kebenaran. Syaratnya? Tentu jadikan dirimu sebagai teladan. Perbaiki hubunganmu dengan Allah, dan laksanakan perintahNya dengan penuh semangat perjuangan.

0

Aku dekat denganNya



Hakikatnya manusia ditakdirkan Allah untuk hidup di bumi semata-mata untuk menunaikan tugasnya dalam pencarian amal yang sebanyak-banyaknya untuk menjadi "tiket masuk" ke kehidupan yang sesungguhnya. Akhirat.

Sesekali kita terlena dalam buaian dunia yang membuat kita lupa apa alasan Allah memberikan kita kehidupan.

Kata rasul, yang paling dekat adalah kematian. Tak pernah disangka, dan tak pernah terduga. Bisa datang kapan pun dimana pun dan dalam kondisi apapun.
Modal awal kita adalah kalimat tahlil yang mengiringi kematian kita kelak. Dan apakah itu bisa direncanakan? "Besok aku kalau mau meninggal mau ngucapi lailahaillah ah!" Sayang, sesungguhnya itu akan terucap bagi pribadi yang memiliki akhlak dan keyakinan yang baik terhadap TuhanNya selama ia hidup.

Andai kita bisa bertanya pada Allah, sudah termasuk golongan anak sholeh/ah kah kita? Sehingga kita tak perlu khawatir terhadap nasib kita kelak saat Kau memanggilku. Sayangnya itu tak bisa, dan memaksa kita untuk selalu memberikan yang terbaik serta amal yang banyak.

Ya Allah, sungguh kami tak bisa melakukan apapun selain kehendakMu.
Wallahualam Bishawab.


0

Aku Kembali

Fasilitas yang Tuhanku berikan sesungguhnya sangatlah lengkap. Buaian kenikmatan yang Ia berikan sungguh menyenangkan nan menyengsarakan. Aku lupa. Ya, aku lupa bahwa senang dan sedihku adalah ujian. Tatkala aku mulai mengingat bahwa ini semua adalah titipan, maka bukankah seharusnya aku menjaga kenikmatan itu sebaik mungkin?

Tunggu sebentar...

Menjaga dari apa? Agar tidak dicuri orang? Agar tidak ditenggelamkan banjir? Atau menjaga dari apa? Dan sebenarnya apa yang dijaga?

HATI. Ya, itu yang paling utama. Dalam tubuhku terdapat segumpal daging yang apabila ianya bersih maka kebajikan lah yang senantiasa menyertai dalam langkah hidupku.
Namun, celakalah bagiku jika segumpal daging itu berisikan noktah-noktah hitam yang semakin menghitam dan menggelapkan. Aku seakan buta dengan kebenaran dan kebathilan turut serta dalam pandangan yang begitu mengasyikkan. Itukah yang aku mau?

...

Aku terlalu egois. Aku menghendaki semua yang aku kehendaki harus terjadi. Berdoa sejadi-jadinya namun saat sudah diberi, lari dan seakan lupa siapa yang memberi.

Atau bahkan, aku terlalu cuek? Tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Sulit mendapat pekerjaan, kebutuhan yang semakin menghimpit dan kekosongan hati yang tengah merindu dambaan hati, tak kunjung menghampiri. Aku terlalu cuek, sampai-sampai aku tak menyadari bahwa itu salah satu caraNya menegurku agar aku senantiasa kembali ke fitrahNya. Fitrah menjadi manusia yang tidak akan bisa menjadi apapun tanpaNya. Aku semakin menjauh, namun semakin tak sadar. Semakin menyalahkan keadaan, parah-parahnya menyalahkan orang terdekat. Bukan menjadi apa yang ku mau, malah menjadi semakin kacau. Dan akhirnya aku memutuskan untuk sendiri. Menganggap bahwa tidak ada lagi orang yang peduli.

Bukankah itu yang terjadi? Asaku telah usang dan perangaiku semakin tak karuan.

Ya Tuhan, inikah caraMu menyadarkanku.

Allah, mudah-mudahan ini bukan Ramadhan terakhirku. Aku masih ingin menebus dosa-dosaku. Perpanjang Ramadhanku, Rabb! Ajak aku kembali padaMu.

0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com