Pernah merasa bosan menunggu?
Apapun itu, baik menunggu teman, panggilan kerja, kesuksesan bisnis, atau
mungkin jodoh (?). Yap, masa tunggu ini bisa disebut dengan istilah delay.
Tapi, tahukah kamu seputar keajaiban delay tersebut? Mengapa Allah membiarkan
kita menunggu dan terkesan membuat kita tidak jelas arah hidupnya. Padahal,
saat-saat inilah sebenarnya Allah tengah menguji seberapa besar keseriusanmu.
Delay juga merupakan bagian utama
saat engkau hendak melakukan hal apapun. Berbisnis, memilih sekolah, memilih
pekerjaan, dll. Delay yang dimaksud disini ialah bukan hanya menunggu, melainkan
sebuah jangka waktu untuk meraih “hati” Allah SWT agar semata-mata apa yang
kita lakukan hanya untukNya. Misalnya begini, saya hendak membangun sebuah
usaha karena saya memiliki keinginan untuk menjadi seorang pebisnis. Berbagai
macam ide usaha telah diciptakan, namun apakah semua ide itu cocok untuk
dijalankan? Apakah itu bisa bermanfaat untuk saya dan orang lain? Apapkah itu
memiliki prospek bagus untuk kedepannya? Nah, maka dari itulah, untuk
memantapkan hati, kita membutuhkan proses delay, yakni proses bertanya pada Allah.
Masa delay ini bisa kita lakukan dengan berbagai hal. Riyadhoh atau
amalan-amalan kebaikan seperti shalat wajib di masjid, sunnah, puasa, sedekah,
dll. Delay ini adalah salah satu proses kita untuk menentukan dalam pengambilan
keputusan, apakah ide yang kita ciptakan dan hendak di eksekusi hanya nafsu
belaka, atau memang benar-benar karena Allah.
Masa-masa delay inilah yang juga
wajib diterapkan kepada para pelaku start-up dalam hal ini untuk memperbanyak
melakukan amalan diawal. Membeli risiko/rintangan di awal. Maksudnya? Ya, boleh
jadi saat proses delay kita lakukan dengan sebaik mungkin itu dapat membeli
kegagalan atau hambatan kita. Misalnya begini, saat hendak membuka suatu usaha,
kita memilih jalur sedekah, sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah.
Meski profit belum seberapa, namun sedekah tetap konsisten dijalankan dan doa
senantiasa dilantunkan dan mempercayakan agar selanjutnya Allah yang tentukan. Nah,
setelah hal tersebut dilakukan, boleh jadi Allah langsung balas dengan
percepatan rezeki dengan keuntungan melimpah, atau justru rugi. Baik untung
maupun rugi, keduanya merupakan cara Allah menjawab doa kita. Kita tetap
membeli risiko diawal. Ketika balasannya percepatan rezeki, tentu kita tidak
akan ragu lagi. Namun jika balasannya justru rugi dan malah modal menjadi habis
tak tersisa? Bagaimana? Nah, ini poin pentingnya. Boleh jadi saat kita tidak
melewati fase delay untuk bertanya pada Allah, justru kita semakin parah
hambatannya. Bukan hanya modal saja yang habis, melainkan hingga minus alias
terlibat hutang. Bisa sajakan? Tetapi malah Allah hanya cukupkan sampai tahap
habisnya modal. Dengan proses delay ini, Allah jadikan kita menjadi hamba yang
semakin taat dimana ikhtiar atau usahanya hanya sebatas lintasan namun hatinya
tetap pada Allah.
Contoh lain misalnya urusan
jodoh. Ada seorang lelaki yang menikah usia 25 tahun. Kemudian pada usia 30
tahun, ia bercerai karena prahara rumah tangganya. Kemudian pada usia 33 tahun,
ia kembali diperkenankan oleh Allah untuk menikah kembali dan keluarganya
menjadi sakinah, mawaddah, warohmah. Jika demikian, lantas lebih baik yang
mana? Nikah 25 tapi cerai, atau nikah 33 tahun tapi langgeng? Yang jelas bukan
keduanya, inginnya kan nikah umur 25 dan langgeng kan? Betul? Nah, maka
disinilah proses delay diberlakukan. Boleh jadi, saat kita hendak memutuskan
menikah di usia 25 tahun, kita tidak terburu-buru melainkan melakukan proses
delay untuk bertanya pada Allah terlebih dahulu. Maka, boleh jadi Allah
memberikan jawabanNya untuk kita menikah di usia 27 tahun dan langgeng. Itulah
proses pengambilan keputusan dengan menggunakan tahapan delay.
Maka sahabat-sahabat, selalu
sertakan Allah dalam segala niat amal perbuatan kita. Karena, bahwasannya apa
yang hendak lakukan merupakan bentuk ibadah kita terhadap Allah. Tak peduli
bagaimana takdir pencapaian kesuksesan kelak, namun yang terpenting adalah
seberapa kuat energi kita dalam melakukan amal kebaikan. Karena takdir
kesuksesan hanya Allah yang berhak menentukan, kita hanya wajib dalam
mengupayakan, bukan menentukan.
***
Referensi sumber dari Prof. Deddy
, Direktur Wisata Hati Center. Salah seorang guru yang berdedikasi dalam bidang
ekonomi dan diterapkan untuk membantu audara-saudaranya dalam membangun
spiritual company :)
Insya Allah, ada lagi
tahapan-tahapan pengambilan keputusan berikutnya. Mudah-mudahan diberi
kesempatan oleh Allah lagi untuk senantiasa berbagi yaaa :)
#4th30DWC

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar positifmu akan semakin membangkitkan gairah menulisku :)