Delay for Decission Making (Part 1)



Pernah merasa bosan menunggu? Apapun itu, baik menunggu teman, panggilan kerja, kesuksesan bisnis, atau mungkin jodoh (?). Yap, masa tunggu ini bisa disebut dengan istilah delay. Tapi, tahukah kamu seputar keajaiban delay tersebut? Mengapa Allah membiarkan kita menunggu dan terkesan membuat kita tidak jelas arah hidupnya. Padahal, saat-saat inilah sebenarnya Allah tengah menguji seberapa besar keseriusanmu.

Delay juga merupakan bagian utama saat engkau hendak melakukan hal apapun. Berbisnis, memilih sekolah, memilih pekerjaan, dll. Delay yang dimaksud disini ialah bukan hanya menunggu, melainkan sebuah jangka waktu untuk meraih “hati” Allah SWT agar semata-mata apa yang kita lakukan hanya untukNya. Misalnya begini, saya hendak membangun sebuah usaha karena saya memiliki keinginan untuk menjadi seorang pebisnis. Berbagai macam ide usaha telah diciptakan, namun apakah semua ide itu cocok untuk dijalankan? Apakah itu bisa bermanfaat untuk saya dan orang lain? Apapkah itu memiliki prospek bagus untuk kedepannya? Nah, maka dari itulah, untuk memantapkan hati, kita membutuhkan proses delay, yakni proses bertanya pada Allah. Masa delay ini bisa kita lakukan dengan berbagai hal. Riyadhoh atau amalan-amalan kebaikan seperti shalat wajib di masjid, sunnah, puasa, sedekah, dll. Delay ini adalah salah satu proses kita untuk menentukan dalam pengambilan keputusan, apakah ide yang kita ciptakan dan hendak di eksekusi hanya nafsu belaka, atau memang benar-benar karena Allah.

Masa-masa delay inilah yang juga wajib diterapkan kepada para pelaku start-up dalam hal ini untuk memperbanyak melakukan amalan diawal. Membeli risiko/rintangan di awal. Maksudnya? Ya, boleh jadi saat proses delay kita lakukan dengan sebaik mungkin itu dapat membeli kegagalan atau hambatan kita. Misalnya begini, saat hendak membuka suatu usaha, kita memilih jalur sedekah, sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Meski profit belum seberapa, namun sedekah tetap konsisten dijalankan dan doa senantiasa dilantunkan dan mempercayakan agar selanjutnya Allah yang tentukan. Nah, setelah hal tersebut dilakukan, boleh jadi Allah langsung balas dengan percepatan rezeki dengan keuntungan melimpah, atau justru rugi. Baik untung maupun rugi, keduanya merupakan cara Allah menjawab doa kita. Kita tetap membeli risiko diawal. Ketika balasannya percepatan rezeki, tentu kita tidak akan ragu lagi. Namun jika balasannya justru rugi dan malah modal menjadi habis tak tersisa? Bagaimana? Nah, ini poin pentingnya. Boleh jadi saat kita tidak melewati fase delay untuk bertanya pada Allah, justru kita semakin parah hambatannya. Bukan hanya modal saja yang habis, melainkan hingga minus alias terlibat hutang. Bisa sajakan? Tetapi malah Allah hanya cukupkan sampai tahap habisnya modal. Dengan proses delay ini, Allah jadikan kita menjadi hamba yang semakin taat dimana ikhtiar atau usahanya hanya sebatas lintasan namun hatinya tetap pada Allah.

Contoh lain misalnya urusan jodoh. Ada seorang lelaki yang menikah usia 25 tahun. Kemudian pada usia 30 tahun, ia bercerai karena prahara rumah tangganya. Kemudian pada usia 33 tahun, ia kembali diperkenankan oleh Allah untuk menikah kembali dan keluarganya menjadi sakinah, mawaddah, warohmah. Jika demikian, lantas lebih baik yang mana? Nikah 25 tapi cerai, atau nikah 33 tahun tapi langgeng? Yang jelas bukan keduanya, inginnya kan nikah umur 25 dan langgeng kan? Betul? Nah, maka disinilah proses delay diberlakukan. Boleh jadi, saat kita hendak memutuskan menikah di usia 25 tahun, kita tidak terburu-buru melainkan melakukan proses delay untuk bertanya pada Allah terlebih dahulu. Maka, boleh jadi Allah memberikan jawabanNya untuk kita menikah di usia 27 tahun dan langgeng. Itulah proses pengambilan keputusan dengan menggunakan tahapan delay.

Maka sahabat-sahabat, selalu sertakan Allah dalam segala niat amal perbuatan kita. Karena, bahwasannya apa yang hendak lakukan merupakan bentuk ibadah kita terhadap Allah. Tak peduli bagaimana takdir pencapaian kesuksesan kelak, namun yang terpenting adalah seberapa kuat energi kita dalam melakukan amal kebaikan. Karena takdir kesuksesan hanya Allah yang berhak menentukan, kita hanya wajib dalam mengupayakan, bukan menentukan.

***

Referensi sumber dari Prof. Deddy , Direktur Wisata Hati Center. Salah seorang guru yang berdedikasi dalam bidang ekonomi dan diterapkan untuk membantu audara-saudaranya dalam membangun spiritual company :)

Insya Allah, ada lagi tahapan-tahapan pengambilan keputusan berikutnya. Mudah-mudahan diberi kesempatan oleh Allah lagi untuk senantiasa berbagi yaaa :)

#4th30DWC



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar positifmu akan semakin membangkitkan gairah menulisku :)

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com