Tentang Tuhanku


Tidak akan pernah ada habisnya orang-orang yang tengah dirundung malang nasibnya terkait ujian yang diberikan oleh Tuhannya. Tidak ada habisnya sumpah serapah yang dilontarkan terhadap nasib buruk yang menimpanya. Pun saat kebahagiaan mulai menyelimutinya, rasa keangkuhan jelas terlihat dari sorot matanya. Menandakan seolah-olah sedang mengatakan “Lihat, aku mampu, yang lain tidak. Lihat, aku bisa membuktikannya”, seakan hidup ini semata-mata hanya membutuhkan pengakuan orang lain, bukan untuk mencari ridhaNya.

Sejatinya kehidupan ini ditentukan oleh sejauh mana kita telah mengakui bahwa Allah adalah zat yang maha segalanya. Menggantungkan segala sesuatu hanya padaNya. Tidak peduli sekuat apa manusia, sekuat apa hartanya, sekuat apa tenaga dan kekuasaannya, namun ada yang lebih dari itu. Ada yang lebih menguasai segala sesuatunya. Jika kita bisa mendekatiNya, menggantungkan segala urusan padaNya, maka bagiNya tidak ada yang tidak mungkin, seperti halnya Maryam putri Imran yang ditiupkan ruh manusia ke dalam kandungannya sekalipun ia masih perawan. Sungguh, kuasa Allah tidak akan pernah ada tandinganNya.

Keindahan alam semesta ini tak pernah tergantikan dengan apapun. Jalan layang yang tengah dibangun dengan material beton yang kokoh,  kereta bawah tanah dengan tekologi canggih, pesawat terbang yang mampu menembus belahan dunia, dan lainnya, sesungguhnya itu tidak ada bandingannya dengan kuasa Allah. Coba saja kau bayangkan, membangun jaan layang memakan waktu bertahun-tahun dengan dana yang tidak sedikit, kereta bawah tanah dengan teknologi super canggih disertai para manusia terpilih yang bertangan dingin, juga pesawat terbang, masih belum ada apa-apanya dengan Allah yang menciptakan dunia dan seisinya dalam waktu 6 hari saja! Ya, hanya 6 hari saja. Pesawat sedemikian rupa diciptakan, namun tidak ada yang bisa menandingin kecanggihan burung yang tanpa disentuh alat sekalipun ia tetap bisa terbang membelah langit biru.

Itulah kuasa Tuhanmu yang perlu kau sadari betul. Pun dengan merenungi bahwa yang melekat pada tubuhmu, mata telinga, hidung, mulut dan bagian tubuh lainnya adalah milikNya. Titipan yang harus kau jaga. Tidak ada sedikit pun kesombongan yang bisa kita lontarkan sedang sebenarnya kita tak memiliki apa-apa.

Maka sahabatku, dengan demikian mulailah kembali memikirkan nasibmu kelak di akhirat dengan menjadikan dunia menjadi lading ibadah. Kau tahu agar makan, minum, dan bekerjamu dinilai ibadah olehNya? Cukup ucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” bahwasannya kau melakukan segala sesuatu atas izinNya, serta tidak meninggalkan ibadah wajib yang utama. Pun dengan sunnah-sunnah yang kau tambah sebagai penyempurna. Buku manual kehidupan bernaama Al-Qur’an lekaslah kau pelajari, sebagai bekalmu dalam menentukan kaidah-kaidah dalam kehidupan dan pemisah yang haq dan yang bathil.


Wallahualam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar positifmu akan semakin membangkitkan gairah menulisku :)

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com