Aku termenung saat seseorang
datang menghampiriku untuk kemudian menatapku dengan sorot mata yang amat
tajam. Teh kotak yang ada digenggamanku, nyaris terjatuh jika saja tidak
tersangkut pada lekukan kakiku yang tengah duduk dalam sebuah bangku panjang. Aku
kaget bukan kepalang saat tiba-tiba orang tersebut makin mendekatkan wajahnya
50 cm di depan wajahku. Mataku semakin terbelalak dan seketika pikiranku dipenuhi
oleh oleh banyak prasangka. Pria itu masih belum melepaskan pandangannya. Ia
justru malah semakin menambah gerakan dengan bergeser ke kanan dan ke kiri
seolah ingin melihat detail pada area kepalaku. Aku mengikuti arah gerakan
kepalanya layaknya seseorang sedang bercermin. Aku masih berpikir, sebenarnya
apa yang membuat pria ini tertarik sedemikian rupa terhadapku? Hal yang tak
pernah ku jumpai sebelumnya saat berada di kampung halamanku dulu.
“Heeey, apa yang kau lakukaaan?”,
Aku menggerutu, dan kali ini aku telah menyadari ada sesuatu yang salah dengan
pria itu.
Pria itu masih bungkam. Wajahnya
masih menyisir kepalaku. Kini tak hanya diam pada satu tempat, ia mulai mengelilingiku
bahkan kini ia tak hanya melihat area kepalaku saja, ia berputar mengitari
bangku yag sedang ku duduki. Ia mulai melihat secara detait dari bawah hingga
atas, belakang, samping, semuanya! Ia tak tertinggal sedikit pun detail atas
apa yang sedang ku gunakan. Sesekali dahinya mengernyit. Entah itu tanda jijik,
heran,bingung atau apapun itu, sesuka hatinya mengartikan.
“Oke, Sir! Enough! What are you
doing here!” Aku berdiri sambil mengehentakka kaki dan jelas menampakkan raut
emosi diwajahku. Kali ini sudah tidak bisa tinggal diam! Teh kotak yang masih
berisi setengah sudah jatuh dengan sedotan yang telah memisahkan diri. Kau bisa
bayangkan mengapa demikian? Saat teh itu jatuh, aku masih menggigit sedotannya
dan barulah saat aku berkata emosi pada pria itu, sedotan itu jatuh
berdampingan dengan pasangannya, teh kotak.
Pria itu masih diam, terus-terusan
diam dan merasa heran. Aku semakin emosi dengan tingkah lakunya. Ditambah
dengan jambang pirangnya serta hidungnya yang begitu tinggi seolah sedang
mengejekku “Ih, kamu pesek banget sih!”, Ah, kalau yang ini jelas aku yang sedikit
minder. Ini perasaanku saja yang jauh di lubuk hatiku paling dalam, yang lebih
jauh dari yang kau bayangkan. Namun aku masih tetap emosi. Ingin rasanya aku
menginjak teh kotak yang kini persis 10 cm di sebelah kakiku agar isinya
memutahkan diri lewat lubang kecil dan setidaknya mengenai saptu atau celana si
pria kurang ajar itu. Namun urung ku lakukan, karena ternyata lubangnya
mengarah ke rok panjangku. Sial, gagal akting ala-ala film.
Pria itu kini sudah bermuka
datar, ia sedikit tersenyum dan seolah menghina.
“Hmm.. Interesting..” gumamnya sambil membalikkan
badan dan pergi meninggalkanku dengan tangan yang dimasukkan ke dalam salah
satu sakunya.
“Whaaaattttt? Dari tadi diliatin
udah macam kayak barang di museum, cuma dikatain “menarik?” Dikira gue gerobak
apa harus ditarik? Eh tapi sejak kapan gerobak ditarik? Azzzzz
Aku kembali duduk di bangku sambil
menghentakkan kaki. Sebal bukan main! Menggerutu tiada habisnya. Aku menunduk.
Kulihat sehelai kain berwarna pink muda yang menempel di dadaku. Aku terdiam. Menyentuhnya.
Aku mulai tersadar terkait apa yang menjadi perhatian pria berjambang pirang
itu. Aku menyentuh kepalaku dengan kedua tangan. Merasakan detail katun yang ku
kenakan. Aku mulai sadar bahwa inilah yang menyebabkan pria berjambang pirang
itu melihatku seperti barang antik di museum. Aku tertunduk, lalu kemudian
menengadah. “Allah.. apakah sedemikian beratnya beban kaum Muhammad untuk
menjalankan perintahMu?”. Aku mulai sadar bahwa jilbab inilah yang membuat pria
itu merasa ada yang tak lazim denganku.
Aku kembali menyadari bahwa ini
bukan lingkungan yang mencintai bermacam budaya, seperti yang terjadi di
kampungku. Ini adalah tempat dimana ada sekelompok orang yang tidak menyukai
caraku menjalani kehidupan, menaati aturanNya dan mengenakan sesuatu yang bagi
mereka tak lazim untuk dilihat. Pun denganku yang terlalu frontal dengan daerah
yang bukan tempat kelahiranku dan tidak sepenuhnya memahami budaya pria
berjambang pirang itu. Ya, negara dengan julukan Paman Sam ini kiranya bukan
tempat sembarangan untuk menampilkan sesuatu yang tak biasa. Barangkali memang
sudah banyak muslimah yag serupa denganku, namun agaknya aku sekarang berada di
sebuah kota yang asing dengan pakaianku. Sebuah pedalaman Amerika yang harus
ditempuh 5 jam dari pusat kota yang aku sendiri masih asing dengan nama kota
ini. Bukan lagi asing, karena aku masih belum tahu kota apa yang sedang ku
jejaki sekarang, karena..
“Mbak Aniiiin. Udah belum pakai
jilbabnyaaa? Jadi mau ke tukang stempel nggak? Ayo buruaaaan!!”
“Iyaa iyaa Siiiit. Sebentaaar. Masih
pakai peniti niiih. Waiiit”
*
Perjalananku dimulai. Aku
mengendarai sepeda motorku ke arah timur kota Semarang. Siti sudah ku turukan
dengan bijak (?) sedari di depan kampus tadi. Mengapa dikatakan dengan bijak?
Begini ceritanya..
Siti mulai menaiki Yamaha Soul GT
ungu milikku. Duduk membonceng samping.
“Udah, Mbak”.. katanya
mendandakan bahwa motor siap melaju.
“Sit...”
“Iyaa.. Kenapa Mbak?”
“Kamu kenapa mau pakai jilbab
lebar?”
“Aku suka liat Mbak-Mbaknya pakai
jilbab lebar. Kelihatan anggun. Terus juga lebih terjaga Mbak. Aku ngerasa saat
aku pakai ini, temen-temenku apalagi yang cowok udah mulai jaga jarak dan nggak
asal main nampol. Juga sering tanya-tanya soal islam meskipun kadang aku nggak
tau jawabannya dan biasanya nanya dulu ke Mbak Anin. Hehehe”
“Kamu seneng, Sit? Nggak ngerasa
beban?”
“Seneng kok Mbak. Dengan ini aku
jadi makin semangat ibadah, pun dengan ini aku semakin berusaha memperbaiki
akhlakku, tanpa harus diperintah, rasanya jilbab ini cukup sebagai rem kalau
aku udah mulai pengen aneh-aneh Mbak. Kalau dibilang beban, ya jelas beban lah,
Mbak. Sampai sekarang aja Mas ku masih suka ngolok-ngolok aku Mbak. Kadang aku
nangis, ko segitunya banget. Emangnya salah orang lagi berproses? Ya kayak yang
waktu itu aku ceritain ke Mbak Anin.”
“Oooh gitu..Barakallah ya Sit.
Allah sayang banget sama kamu. Percayalah, jilbab ini nggak akan menghalangimu,
sedikit pun. Kamu akan merasa bahwa dengan ini, minimal apa yang kamu kerjakan
menjadi keberkahan tersendiri. Memberikan contoh yang baik tanpa harus
menggurui, hanya cukup dicontohkan saja. Besok tantanganmu semakin berat. Tetap
pertahankan ya,apapun yang terjadi. Hidayah Allah harus tetap dipertahankan
karena istiqomah jauh lebih sulit dibandingkan ketika memulai, karena Allah
janjikan pahala yang lebih besar sebanding dengan ujian yang diberikan.
Siap-siap naik kelas ya!”
“Ahahaha. Siaaap Mbaaak. Loooh
Mbaaak, ini kita mau kemana? Kok muter-muter?”
“Ke kampus kan? Ini kan bisa
jalannya juga. Sengaja diputerin betar biar critanya selesai. Hehehe”
“Aaah Mbak Anin, ada-ada aja..”
*
Aku melanjutkan perjalananku
menuju arah timur kota, sepanjang perjalanan aku terus-terusan memikirkan
khayalanku sedari memakai jilbab di kos tadi dan sedikit motivasi berjilbab
Siti tadi. Aku berpikir bahwa sebenarnya hakikat orang hidup bukankah untuk
mengabdi? Namun mengapa banyak orang belum sadar pun denganku yang terkadang
sering kali keluar jalur dan harus buru-buru kembali agar tidak semakin
memperparah keadaan batinku. Aku kembali berpikiri mengapa orang-orang barat
begitu anti terhadap Islam? Islamophobia, ya itu dia istilahnya. Aku kembali
mengenang sejarah Rasulullah yang belum sepenuhnya aku selesai membaca. Aku
ingat bahwa rasulullah pun pada mulanya hanya diikuti sekelompok kecil dan
melewati berbagai cercaan, hinaan, penolakan hingga peperangan yang harus
dihadapi hanya dengan sebuah misi yang kuat, menyebarkan agama Islam yang mulia
ini. Denganbegitu sabarnya Rasulullah yang penuh kesabaran dengan hinaan, aku
hanya di lihat oleh orang berjambang pirang saja marahnya bukan main. Yaaah
terlepas itu khayalan atau bukan, yang jelas kalau benar-benar terjadi
kemungkinan besar itu yang akan aku lakukan.
Aaah, aku semakin memahami
hakikat kenapa setiap umat islam sebenarnya diwajibkan untuk menebar kebaikan,
berdakwah agar semakin banyak orang mengetahui apa itu Islam yang sebenarnya.
Meskipun aku mengetahui bahwa ilmu ku dikatakan belum seberapa, namun aku bisa
memulai menebar kebaikan atas ilmu yang perlahan sedang ku pelajari.
Sederhananya seperti makan dengan kanan. Bahkan masih banyak orang yang belum
tahu dan menyadari bahwa makan dengan
kanan adalah perintah rasululah, bukan sekedar kebiasaan. Bahwa makan dengan
tangan kiri ditambah tanpa bismillah sama halnya dengan syetan yang masuk lewat
makanan kita dan mengaliri darah kita.
Haahhh, cara Allah memang selalu
indah jika kita menyadarinya. Apaagi ditambah bayangan keindahan surga dan
keganasan neraka. Duuuh, mau yang baik-baik aja deh kalau bisa!
*
“Loooh looh. Ini aku dimana sih?
Loooh.. Kok mobil semua?? Kok sepi gini jalannya, perasaan bukan kayak gini deh
jalan biasanya.” Kurang lebih 1 km aku menempuh jalan asing itu dan masih belum
menyadari ini jalan apa dan dimana.
“INNALILLAHI! ASTAGHFIRULLAH! INI
KAN JALAN TOOOOLLL!! KOK BISA SIIIIIH MASUK SINIIII...” Aku berteriak kalang
kabut disertai dengan degupan jantung yang semakin kencang. Motor unguku masuk
jalan tol dan udah jauh bangeeet! Aku panik setengah mati, karena ini memang
hidup dan mati. Aku segera berbalik arah. Melipir ke kanan jalan sembari
diklakson berbagai mobil dan truk-truk kontainer besar. Sesekali aku
mengehentikan laju motorku untuk menunggu mobil itu melaju berlawanan arah
disertai dengan hembusan angin yang kencang dan menempa motorku. Ya Alah,
rasanya pengen cepet ketemu persimpangan jalan!
Kurang lebih 8 menit aku menempuh
perjalanan mengerikan itu. Tiba disebuah persimpangan dan terlihat orang-orang yang tengah berhenti
di lampu merah melihat ke arah jalanku. Mungkin mereka heran mengapa ada motor
keluar dari jalan tol (?) Aku segera masuk ke gang di samping jalan.
Menenangkan diri, melepas sarung tangan dan masker. Segera mengambil smarphone
dan mengetikkan sebuah pesan Whatsapp..
Abiiiii T.T T.T T.T
Takuuuuttt
Lemeeess
Hani abis nglantur lagi. Naik motor lewat jalan tol
Dan itu jauh T.T
Terlihat nama kontak diatas layar
“Suami tercinta”..
-End-
Cerita ini merupakan kisah nyata pada bagian nyasar dijalan tol termasuk teks Whatsapp tersebut. Berhubung screenshootnya belum bisa dikirim ke laptop, jadi nggak ikut di post :D