2017, Insya Allah



Rezeki, jodoh, kematian, sudah Allah yang mengatur. Ketiganya akan senantiasa dialami manusia saat hidup di dunia. Ketiganya sama-sama diperjuangkan agar mendapatkan hasil yang maksimal dan baik. Rezeki yang maksimal serta baik digapai lewat semangat dalam mencarinya. Pun dengan jodoh. Allah menakdirkan yang baik, untuk yang baik. Artinya saat kita ingin mendapatkan yang baik beserta “paket komplit” yang dinamakan jodoh idaman pun, kita mesti berjuang. Apalagi kematian. Kematian yang baik ialah yang diawali lewat gerbang khusnul khatimah yang ditandai dengan ucapan “Laa Ilaaha Ilallah” diakhir hayat. Hal ini tidak bisa direncanakan saat di dunia cukup dengan mengatakan “besok kalau meninggal akau mau ngucap tahlil, biar masuk surga”. Tidak cukup hanya itu, karena kematian yang baik adalah cerminan dari kehidupannya semasa di dunia. Dekatkah selama ini dengan Allah? Bahagiakah saat mengerjakan yang Wajib dan Sunnah?  

Impian itu, wajib dimiiki setiap orang. Ibarat seerti air yang mengalir, pun harus ada muaranya diujung yang dituju. Memastikan bahwa lautlah tujuan utamanya, bukan ke selokan. Impian yang satu ini erat kaitannya dengan penggapaian rezeki yang baik. Perlu diperjuangkan dan direncanakan. Impian yang konkrit dan terarah, seperti misalnya “tahun 2017 aku ingin bisnis keju aroma ku telah memiliki 1000 reseller di seluruh Indonesia”, demikianlah impian.

Oke, sekarang masuk ke ranah spesifikasi impian dari seorang Anindya Rizqi Fauziyyah. Seorang Mahasiswi yang sudah menjadi ibu rumah tangga. Mahasiswi yang masih berjuang dengan tugas akhir serta berjuang mengokohkan rumah tangganya, berjuang sepenuhnya mendukung suami tercinta serta mendampinginya dalam setiap situasi dan kondisi. 2017 akan menjadi perjalanan tahun yang insya Allah penuh keberkahan dengan impian-impian yang tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga akhirat. Seperti kebermanfaatan ilmu yang didapatkan dari tamatnya S1 Ilmu Komputer Anin. Tidak hanya gelar S.Kom semata, melainkan bagaimana membuatnya menjadi amanah dengan kemampuan IT yang dimiliki. Yaah, minimal bisa dimanfaatkan untuk analisis bisnis yang ingin dibangun dengan memanfaatkan teknologi nantinya. Juga keinginan besar memiliki buah hati di bulan September 2017 sebagai pelengkap perjuangan untuk menciptakan generasi yang bermanfaat bagi ummat dan senantiasa mencintai Al-Qur’an. Aamiin Ya Allah.

Wisuda, Bisnis, Buah Hati. Ketiganya menjadi garis besar impian yang ingin dicapai pada 2017. Hanya itu? Ingin melihat masjidil haram dan beribadah lebih dekat dengan Allah, menjadi keinginan utama pula. Insya Allah masih ada breakdown­ lainnya dalam menggapai keberkahan 2017 di masa depan, jika masih cukup umur yang diberikan oleh Allah tentunya.

Namun, ada yang lebih peting dari sekedar impian yang bentuknya masih sebatas afirmasi. Karena ada sesuatu yang sudah pasti akan terjadi, hanya saja kita tidak tahu kapan waktunya. Iya, lagi-lagi soal kematian. Memperjuangkan kebaikan untuk mendapatkan surge yang indah, tidak perlu menunggu sampai 2017. Saat ini, jam ini, detik ini, mulailah gapai cita-cita impian khusnul khatimah dan syahid di jalan Allah menjadi tujuan utama. Meningkatkan keimanan dan takwa pada Allah. Mengutamakan Allah daripada yang lain. Melakukan hal yang dicintai oleh Allah lewat ibadah shalat, puasa, zakat, sedekah, berbuat baik, dll.


Bismillah. Ya Allah. Kuatkan kami untuk memperjuangkan impian-impian kami.
0

Obat Malas?



Ada sebuah pertanyaan yang menarik dari salah seorang adik kelas saya di kampus. Ia bertanya saat dalam sebuah forum diskusi. Kurang lebih begini pertanyaannya..

Mbak, gimana sih cara ngatasin males? Sebenernya udah ada niat gitu buat ngelakuin, tapi susah banget geraknya. Tapi niat mah udah bulet”, tanyanya sambil menampilkan wajah resah akan keluhannya terhadap permasalahan yang dihadapi.

Sontak saya tersenyum, merasakan juga apa yang adik kelas saya rasakan. Hanya saja, mungkin karena saya lebih tua sehingga perang melawan malasnya mungkin jauh lebih banyak dan sedikit lebih berpengalaman, heheh.

Jadi begini, pada dasarnya pertanyaan bagaimana cara menghilangkan malas tidak bisa dijawab dengan menggunakan sebuah pernyataan saja. Tidak seperti ilmu matematika yang jika diberi rumus A maka akan langsung ketemu jawabannya. Paling banter kalau nggak langsung ketemu, ya pakai rumus turunan dan endingnya akan ketemu juga dengan jawaban yang sama.

Namun dalam kasus persoalan “malas” ini, tidak bisa serta merta hanya mengatakan “Males ya dilawan. Jangan mau kalah”. Maka rasanya jawaban itu terlalu simpel dan hambar. Semua juga tau kalau malas dilawan. Maka pertanyaannya jadi bertambah “cara ngelawannya gimana?”. Hmmmm..

Pada dasarnya segala kebaikan itu pasti berat saat dilakukan. Mengapa? Karena syetan akan selalu menggoda dari arah manapun dan dalam kondisi apapun. Itulah mengapa jihad yang paling sulit ialah jihad melawan hawa nafsu, melawan hawa-hawa negatif dan berperang melawan syetan. Tatkala malas itu menghadang, percayalah bahwa semakin banyak energi yang kita keluarkan untuk suatu kebaikan, maka semakin banyak pula pahalanya. Energi yang besar tentu pahalanya juga besar.

Berbeda halnya saat kita hendak melakukan suatu kemaksiatan. Hal-hal yang sekiranya kurang bermanfaat sebut saja nongkrong, pacaran, dan lainnya, tentu rasanya sangat mudah, karena syetan mendukung dengan seluruh daya upayanya. Membisikki kita dari berbagai arah. Mendorong dengan semangat luar biasa agar kita terjerumus dalam kubang kemaksiatan. Mudah sekali rasanya karena memang tidak membutuhkan energi yang lebih atau bahkan tanpa mengeluarkan energi. Karena memang tidak ada pahalanya, sehingga energi melawan hawa nafsunya pun tidak perlu dikerahkan.

Maka, jawaban atas pertanyaan “Cara Mengatasi Malas” adalah kembali pada penyelesaian kita masing-masing. Setiap orang punya caranya masing-masing, namun yang harus menjadi semangat utama saat malas itu melanda adalah “PAHALA BESAR, ENERGI JUGA BESAR”. Perkara hal apa yang harus dilakukan, itu kembali ke diri kita sembari diiringi dengan doa, “Yaa Allah, jangan bikin saya males ya Allah. Ya Allah, berilah saya semangat ya Allah, agar waktu saya bisa dipergunakan dengan baik. Yaa Allah, males itu nggak enak, tolooonglah hamba Yaa Allah, toloooong”.. Demikianlah doanya. Doa versi kita masing-masing. Karena sesungguhnya malas kita berasal dari Allah dan semangat kita pun dari Allah, dan Allah adalah sang Maha Membolak-balikan hati .

Insya Allah deh, saat kita menyerahkan segalanya ke Allah dan sedikit-sedikit ngadunya ke Allah, maka insya Allah ada aja solusinya. Entah kita dipertemukan dengan seseorang, diperlihatkan sesuatu, ditegur lewat video, buku, teman, dan lainnya. Jangan berpikir terus gimana caranya. Kalau kata Aa Gym, stress itu kebanyakan mikir dan kurang dzikir, pun dengan malas. Syaratnya adalah yakin 100% bahwa Allah yang akan memberikan solusi, bukan yang lainnya. Adapun jika saat malas kemudian dipertemukan dengan sesuatu yang biasa disebut “moodboster”, maka jangan sampai mengatakan gara-gara moodboster jadi nggak malas lagi. Bukan demikian, karena sebaik-baiknya moodboster adalah Allah. Kalau moodbosternya es krim, bukan karena es krimnya yang bikin tenang, tetapi Allah. Allah yang memberikan kita rezeki untuk makan es krim, maka Alhamdulillah, atas izin Allah jadi tenang lewat es krim. Es krim hanya perantara saja, bukan penyebab utama. Karena penyebabnya tentu Allah :)

Jadi, kalau malas, kuncinya adalah : Ingat Allah, yakin bahwa pahala besar membutuhkan energi yang besar pula.

Adapun doa yang diajarkan oleh Rasulullah yang biasa dilantunkan saat dzikir pagi dan petang. Berikut doanya :

“Allahumma inni a’uudzu bika minal hammi wal khazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa ’auudzu bika minal jubni wal bukhl, wa ‘auudzu bika min gholabti daini wa kohrirrijal

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari rasa gelisah dan sedih, kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan orang”


Wallahualam.

#8th30DWC   
0

MAAF


Maaf, barangkali apa yang kuucapkan selama ini tidak seperti apa yang telah kulakukan.

Maaf, barangkali nasihatku yang tidak kau amini menjadikan amarahku tak tertahankan.

Maaf, barangkali, ucapanku hanya bualan dan angan seperti debu yang diterbangkan.

Karena sejatinya, aku tahu bahwa sebenarnya hal yang paling utama ialah memberikan teladan, bukan sekedar ucapan. Sayangnya, aku terlalu naif. Ketidak mampuanku menjadikan kalimat untuk beralasan.

*

Maaf, untuk telingaku yang tak tahan dengan kebaikan,

Maksud hati, aku memahami. Tetapi prasangka tak bisa dibohongi.

Prasangkaku terlalu kuat untuk menolak.

Maaf, sekarang aku mengerti bahwa sejatinya  aku harus lebih banyak mendengar, bukan berujar

*

Maaf, untuk lisanku yang terlalu aktif bekerja.

Menjadikannya siang malam penuh canda dan tawa, seaka lupa bahwa esok ia akan ditanya oleh Sang 
Maha Kuasa

Maaf, untuk lisanku yang mudah berubah dari satu kata ke kata yang lain. Maksud hati ingin menyampaikan kebaikan, tetapi justru sebaliknya. Tidak berguna.

Maaf, seharusnya aku bisa memilah kata yang tepat, bukan berkata seenak jidat

*

Maaf, untuk kehadiranku yang barangkali tak kau harapkan,

Maksud hati ingin meneduhkan, namun malah merusak pemandangan.

Maaf, kiranya hadirku dapat memberikan bantuan, malah menjadi masalah semakin tak karuan.

*

Maaf, untuk kesekian kalinya.

Apalah dayaku, karena memang ini yang hanya bisa ku lakukan.

Maaf. Sungguh… untuk berkata maaf, akupun harus banyak berlatih. Tak mudah untuk mengucapkan sepenuh hati, namun aku tetap percaya bahwa sesekali ia menjadi solusi.


Ya Rabb, tak ada nikmat yang bisa kurasakan hingga sekarang tanpa izinMu. Tak ada kebaikan apapun yang menandingi kebaikanMU. Dan tak ada satupun hamba yang memiliki persedian memaafkan, selain Engkau, Sang Maha Pemaaf.

Kami yang selalu tidak sabar menunggu Kau kabulkan doa, sementara Engkau selalu sabar menunggu kami bertaubat.

Maaf, Ya Rabb..


-@anindyarizfa-
0

Menelisik Keikhlasan


Kita tidak pernah tahu, mana amalan kita yang diterima Allah, dan mana yang tidak diterima. Mana yang menurut Allah tepat, dan tidak, dan bahkan kita tidak tahu mana yang benar-benar karena Allah dan mana yang dilakukan karena alasan selain Allah. Karena pada dasarnya, manusia hanya bisa mengupayakan kebaikan hingga kebaikan itu menjadi kebiasaan yang bermanfaat.

Selanjutnya soal keikhlasan. Ini pun sama, kita tidak tahu mana yang benar-benar ikhlas karena Allah dan mana yang ikhlas karena ingin dipuji atau ingin hal lainnya. Tipis sekali. Kilatan-kilatan hati itu sungguh sangat halus. Tidak terlihat bahkan lebih kecil dari atom. Mungkin ini biasa disebut dengan quantum. Quantum merupakan suatu hal terkecil, yang bahkan tidak terlihat namun bisa dirasakan tetapi tidak terdefinisikan. Ya, ini soal rasa, soal getaran hati yang menyusup dalam sanubari.

Kemudian antara syirik dan riya. Erat sekali kaitannya dengan sejauh mana kekuatan tauhid kita. Syirik kecil dan syirik besar, hal yang kerap kali kita lakukan namun tidak kita sadari. Syirik kecil, tatkala kita melakukan sesuatu bukan karena Allah melainkan karena kepentingan lain. Seperti kita kecil dulu. Mau disuruh ibu asal ada imbalannya. Kalau nggak ada imbalan, nggak jalan. Ini termasuk golongan syirik karena melakukannya bukan untuk mendapat pahala tapi untuk mendapat imbalan. Celakanya, ini terjadi hingga kita sudah dewasa. Kalau syirik besar? Wah sudah jelas, saat kamu mengalami suatu kejadian dan menganggap kejadian itu bukan karena Allah atau meyakini ada kekuatan lain selain Allah. Naudzubillah.

Pun dengan riya, yakni meninggalkan sesuatu bukan karena Allah. Banyak mikir saat hendak melakukan kebaikan dan akhirnya nggak jadi melakukan kebaikan karena takut dicap ini dan itu. Seperti dulu saat awal-awal hijrah. Inginnya buka Qur’an di tempat umum, memanfaatkan waktu untuk tilawah. Namun saat pertama kali rasanya ada kesan malu dilihat orang, takut dikatakan sok alim, sok suci, dll. Lantas apa yang terjadi kalau pada akhirnya hal baik itu nggak jadi dilakukan? Maka itu termasuk kategori Riya, karena meninggalkan sesuatu bukan karena Allah melainkan takut dikomentarin orang.

Lantas,bagaimana dong biar nggak syirik dan nggak riya? Ya, inilah PR terbesar manusia setiap hari dan setiap saat. Lagi-lagi kita tidak pernah tahu hal mana yang ikhlas karena Allah, maka alangkah baiknya tetaplah melakukan kebaikan itu sambil meyakinkan diri bahwa ini semua untuk Allah. Memperbanyak istighfar agar kilatan-kilatan hati untuk senang dipuji perlahan Allah hapuskan. Terus berkata pada diri “Ya Allah, ini untukMu. Ya Allah, jagalah hati hamba. Ya Allah, luruskanlah niat hamba. Ya Allah, jagalan hamba”. Demikian lah doanya. Niat sampai kapanpun bisa saja menjadi berbelok karena memang tugas syetan ialah mengusik hati manusia. Kalau kita banyak mikir, banyak pertimbangan untuk hal yang jelas-jelas baik, maka barangkali akan menjadi kebiasaan dan akhirnya menunda atau bahkan tidak melakukan kebaikan apapun. Lakukanlah kebaikan itu dengan diiringi doa agar selalu dijaga dari bahtera ujian berupa pujian. Selalu berdoa agar Allah luruskan niat ditambah dengan istighfar sesekali hati merasa melayang saat dipuji. Ya, memang membersihkan hati harus setiap hari. Maka beruntunglah orang-orang yang senantiasa membersihkan hatinya dan menyadari bahwa kehinaan dirinya jauh lebih besar dibanding kebaikannya.

Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahablanaa milladunka rohmatan innaka Antal Wahhaab. (QS. Ali Imran : 8)

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. Karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberia (karunia)"


Wallahualam.
#5th30DWC


0

Delay for Decission Making (Part 1)



Pernah merasa bosan menunggu? Apapun itu, baik menunggu teman, panggilan kerja, kesuksesan bisnis, atau mungkin jodoh (?). Yap, masa tunggu ini bisa disebut dengan istilah delay. Tapi, tahukah kamu seputar keajaiban delay tersebut? Mengapa Allah membiarkan kita menunggu dan terkesan membuat kita tidak jelas arah hidupnya. Padahal, saat-saat inilah sebenarnya Allah tengah menguji seberapa besar keseriusanmu.

Delay juga merupakan bagian utama saat engkau hendak melakukan hal apapun. Berbisnis, memilih sekolah, memilih pekerjaan, dll. Delay yang dimaksud disini ialah bukan hanya menunggu, melainkan sebuah jangka waktu untuk meraih “hati” Allah SWT agar semata-mata apa yang kita lakukan hanya untukNya. Misalnya begini, saya hendak membangun sebuah usaha karena saya memiliki keinginan untuk menjadi seorang pebisnis. Berbagai macam ide usaha telah diciptakan, namun apakah semua ide itu cocok untuk dijalankan? Apakah itu bisa bermanfaat untuk saya dan orang lain? Apapkah itu memiliki prospek bagus untuk kedepannya? Nah, maka dari itulah, untuk memantapkan hati, kita membutuhkan proses delay, yakni proses bertanya pada Allah. Masa delay ini bisa kita lakukan dengan berbagai hal. Riyadhoh atau amalan-amalan kebaikan seperti shalat wajib di masjid, sunnah, puasa, sedekah, dll. Delay ini adalah salah satu proses kita untuk menentukan dalam pengambilan keputusan, apakah ide yang kita ciptakan dan hendak di eksekusi hanya nafsu belaka, atau memang benar-benar karena Allah.

Masa-masa delay inilah yang juga wajib diterapkan kepada para pelaku start-up dalam hal ini untuk memperbanyak melakukan amalan diawal. Membeli risiko/rintangan di awal. Maksudnya? Ya, boleh jadi saat proses delay kita lakukan dengan sebaik mungkin itu dapat membeli kegagalan atau hambatan kita. Misalnya begini, saat hendak membuka suatu usaha, kita memilih jalur sedekah, sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Meski profit belum seberapa, namun sedekah tetap konsisten dijalankan dan doa senantiasa dilantunkan dan mempercayakan agar selanjutnya Allah yang tentukan. Nah, setelah hal tersebut dilakukan, boleh jadi Allah langsung balas dengan percepatan rezeki dengan keuntungan melimpah, atau justru rugi. Baik untung maupun rugi, keduanya merupakan cara Allah menjawab doa kita. Kita tetap membeli risiko diawal. Ketika balasannya percepatan rezeki, tentu kita tidak akan ragu lagi. Namun jika balasannya justru rugi dan malah modal menjadi habis tak tersisa? Bagaimana? Nah, ini poin pentingnya. Boleh jadi saat kita tidak melewati fase delay untuk bertanya pada Allah, justru kita semakin parah hambatannya. Bukan hanya modal saja yang habis, melainkan hingga minus alias terlibat hutang. Bisa sajakan? Tetapi malah Allah hanya cukupkan sampai tahap habisnya modal. Dengan proses delay ini, Allah jadikan kita menjadi hamba yang semakin taat dimana ikhtiar atau usahanya hanya sebatas lintasan namun hatinya tetap pada Allah.

Contoh lain misalnya urusan jodoh. Ada seorang lelaki yang menikah usia 25 tahun. Kemudian pada usia 30 tahun, ia bercerai karena prahara rumah tangganya. Kemudian pada usia 33 tahun, ia kembali diperkenankan oleh Allah untuk menikah kembali dan keluarganya menjadi sakinah, mawaddah, warohmah. Jika demikian, lantas lebih baik yang mana? Nikah 25 tapi cerai, atau nikah 33 tahun tapi langgeng? Yang jelas bukan keduanya, inginnya kan nikah umur 25 dan langgeng kan? Betul? Nah, maka disinilah proses delay diberlakukan. Boleh jadi, saat kita hendak memutuskan menikah di usia 25 tahun, kita tidak terburu-buru melainkan melakukan proses delay untuk bertanya pada Allah terlebih dahulu. Maka, boleh jadi Allah memberikan jawabanNya untuk kita menikah di usia 27 tahun dan langgeng. Itulah proses pengambilan keputusan dengan menggunakan tahapan delay.

Maka sahabat-sahabat, selalu sertakan Allah dalam segala niat amal perbuatan kita. Karena, bahwasannya apa yang hendak lakukan merupakan bentuk ibadah kita terhadap Allah. Tak peduli bagaimana takdir pencapaian kesuksesan kelak, namun yang terpenting adalah seberapa kuat energi kita dalam melakukan amal kebaikan. Karena takdir kesuksesan hanya Allah yang berhak menentukan, kita hanya wajib dalam mengupayakan, bukan menentukan.

***

Referensi sumber dari Prof. Deddy , Direktur Wisata Hati Center. Salah seorang guru yang berdedikasi dalam bidang ekonomi dan diterapkan untuk membantu audara-saudaranya dalam membangun spiritual company :)

Insya Allah, ada lagi tahapan-tahapan pengambilan keputusan berikutnya. Mudah-mudahan diberi kesempatan oleh Allah lagi untuk senantiasa berbagi yaaa :)

#4th30DWC



0

Menulis Menumbuhkan Rasa


Menulis itu menumbuhkan rasa. Akan ada makna yang ditimbulkan dari setiap kata yang ditorehkan. Barangkali, itu hanya sebait kalimat dar seseorang yang tidak kau ketahui apa maksudnya. Namun percayalah bahwa itu adalah gambaran rasa dari penulisnya. Bahkan, karakter seseorang dapat terlihat bagaimana caranya menata kalimat untuk dijadikan rujukan dalam mencapai apa yang diinginkan.

 Dulu aku selalu berpikir, untuk menulis tentang apa yang ku suka. Tulis apapun yang aku ingin tulis. Namun, malam tadi, aku belajar sesuatu dari seorang guru yang lebih dahulu terjun dalam dunia kepenulisan. Menulis sebagai sarana untuk dijadikan sebuah ibadah, katanya. Sehingga, semangat kita tak akan pernah rapuh saat hal yang paling diingat ialah pahala yang Allah janjikan. Selalu menyadari bhwa hidup ini penuh arti dan memiliki berbragai hikmah yang bisa diambil, dan sarana yang paling kuat agar kita tidak lupa ialah dengan menulisannya, sehingga suatu saat kita bisa kembali membuka catatan agar senantiasa mengevaluasi diri dari hari ke hari. Hal lain yang ia katakan, bahwa seorang penulis yang baik adalah bukan karena ia menyukai topik yang kerap kali ia tulis, melainkan aktivitas menulisnyalah yang ia cintai. Baik genre cinta, motivasi, fiksi, bahkan karya ilmiah sekalipun, penulis hebat tidak pernah mengeluhkannya. Ia cinta menulis dan ia melihat kebutuhan akan dirinya atas apa yag hendak ia tuliskan. Ia melihat masalah yang ada untuk mempertajam analisa untuk menciptakan solusi,  ia peduli dengan saudaranya sehingga menciptakan barisan kalimat pencerahan untuk kehidupannya. Ia memahami bahwa keyakinannya atas sebuah kebaikan harus ia sampaikan ke penduduk yang ada di belahan dunia, sehingga ia menuliskannya untuk kemudian ia sebarkan sebagai misi perdamaian.

Beberapa bulan belakangan, tepatnya setelah menikah,  jemari ini rasanya kelu sekali untuk sekedar mengayunkan pena atau menari diatas keyboard komputer. Rasanya tak ada gairah sama sekali untuk menuangkan segala perasaan. Padahal sebelumnya, aku senang saat aku meluangkan waktu untuk menulis dan menceritakan pengalaman atas kejadian yang aku alami pada hari itu. Ternyata, aku baru menyadari, barangkali salah satu alasan mengapa aku tidaka bergairah menulis ialah karena aku telah memiliki orang yang senantiasa setia mendengarkan segala ceritaku. Sehingga aku terlena untuk tidak menuliskannya. Kalimat itu tentu membuat sebuah makna. Bagiku, dan suamiku. Memang tak ada salahnya, justru itu menimbulkan kehangatan antara suami istri. Namun, jika aku hanya menceritakan apa yang kualami kepadanya saja, lantas kemudia suara yang telah ku keluarkan hanya akan menjadi angin yang sampai pada satu orang dimana kelak ingatan akan cerita tersebut hanya bermakna sementara. Tak membekas. Hanya tawa atau air mata sesaat. Selebihnya bagai hembusan angin yang tak berwujud dan tidak tahu kemana arah perginya.

Aku mulai mencoba kembali mencintai aktivitas ini. Aktivitas dimana aku bisa mengekspresikan segala perasaan sekaligus menjadi tolak ukur sejauh mana kepedulianku terhadap orang disekitarku. Karena pada dasarnya, menulis adalah salah satu bukti atas pengamatan kita sehari-hari. Menjadikan orang lain menjadi inspirator kehidupan. Menjadikan kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang sanantiasa menggairahkan dan tentunya akan menjadi makna baru dalam kehidupan.
Jika 1 peluru dapat menemus 1 kepala, maka 1 kata dapat menembut jutaan kepala. Banyak orang merasa hidupnya berubah hanya dengan beberapa kata yang terlontar atau tertulis. Pilihannya hanya 2, baik atau buruk. Jika kau melontaran keburukan, maka yang terluka adalah hati orang-orang yang membaca atau mendengarnya. Mereka terluka, kita pun sebenarnya terluka meski merasa “menang” dalam sebuah adu pendapat. Padahal, bekasnyak tidak mudah untuk dihiangkan. Dosanya? Wallahualam, yang jelas, menyakiti hati saudara merupakan suatu hal yang tidak Allah sukai.

Sebaliknya, saat kau berkonsentrasi untuk menciptakan satu kebaikan yang bisa menimbulkan perubahan positif terhadap orang-orang disekitarmu, maka bagimu 2 pahala kebaikan sekaligus. Pahala mengingatkan dan pahala apabila orang tersebut mengerjakan apa yang kamu sarankan tanpa merugikannya.
Ikatlah ilmu dengan tulisan. Dengannya, kau bisa kembali merasakan pesona keindahan kejadian masa lalu yang menakjubkan atau bahkan menyakitkan, namun tentunya banyak pelajaran yang akan kau dapatkan. Memang, satu hal yang paling jauh dari hidup kita diantaranya adalah masa lalu. Ya, kau tak boleh mengingatnya sehingga menimbulkan dampak negatif dalam dirimu. Tapi kau dapat mengambilnya untuk sebuah peluru yang bisa kau luncurkan sebagai bahan mempersiapkan masa depan dan tidak ingin terjerembab di lubang yang sama. Peluru hikmah yang senantiasa kau ambil untuk dijadikan pelajaran bagi dirimu dan orang lain.


0

Tentang Tuhanku


Tidak akan pernah ada habisnya orang-orang yang tengah dirundung malang nasibnya terkait ujian yang diberikan oleh Tuhannya. Tidak ada habisnya sumpah serapah yang dilontarkan terhadap nasib buruk yang menimpanya. Pun saat kebahagiaan mulai menyelimutinya, rasa keangkuhan jelas terlihat dari sorot matanya. Menandakan seolah-olah sedang mengatakan “Lihat, aku mampu, yang lain tidak. Lihat, aku bisa membuktikannya”, seakan hidup ini semata-mata hanya membutuhkan pengakuan orang lain, bukan untuk mencari ridhaNya.

Sejatinya kehidupan ini ditentukan oleh sejauh mana kita telah mengakui bahwa Allah adalah zat yang maha segalanya. Menggantungkan segala sesuatu hanya padaNya. Tidak peduli sekuat apa manusia, sekuat apa hartanya, sekuat apa tenaga dan kekuasaannya, namun ada yang lebih dari itu. Ada yang lebih menguasai segala sesuatunya. Jika kita bisa mendekatiNya, menggantungkan segala urusan padaNya, maka bagiNya tidak ada yang tidak mungkin, seperti halnya Maryam putri Imran yang ditiupkan ruh manusia ke dalam kandungannya sekalipun ia masih perawan. Sungguh, kuasa Allah tidak akan pernah ada tandinganNya.

Keindahan alam semesta ini tak pernah tergantikan dengan apapun. Jalan layang yang tengah dibangun dengan material beton yang kokoh,  kereta bawah tanah dengan tekologi canggih, pesawat terbang yang mampu menembus belahan dunia, dan lainnya, sesungguhnya itu tidak ada bandingannya dengan kuasa Allah. Coba saja kau bayangkan, membangun jaan layang memakan waktu bertahun-tahun dengan dana yang tidak sedikit, kereta bawah tanah dengan teknologi super canggih disertai para manusia terpilih yang bertangan dingin, juga pesawat terbang, masih belum ada apa-apanya dengan Allah yang menciptakan dunia dan seisinya dalam waktu 6 hari saja! Ya, hanya 6 hari saja. Pesawat sedemikian rupa diciptakan, namun tidak ada yang bisa menandingin kecanggihan burung yang tanpa disentuh alat sekalipun ia tetap bisa terbang membelah langit biru.

Itulah kuasa Tuhanmu yang perlu kau sadari betul. Pun dengan merenungi bahwa yang melekat pada tubuhmu, mata telinga, hidung, mulut dan bagian tubuh lainnya adalah milikNya. Titipan yang harus kau jaga. Tidak ada sedikit pun kesombongan yang bisa kita lontarkan sedang sebenarnya kita tak memiliki apa-apa.

Maka sahabatku, dengan demikian mulailah kembali memikirkan nasibmu kelak di akhirat dengan menjadikan dunia menjadi lading ibadah. Kau tahu agar makan, minum, dan bekerjamu dinilai ibadah olehNya? Cukup ucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” bahwasannya kau melakukan segala sesuatu atas izinNya, serta tidak meninggalkan ibadah wajib yang utama. Pun dengan sunnah-sunnah yang kau tambah sebagai penyempurna. Buku manual kehidupan bernaama Al-Qur’an lekaslah kau pelajari, sebagai bekalmu dalam menentukan kaidah-kaidah dalam kehidupan dan pemisah yang haq dan yang bathil.


Wallahualam.
0

Teh Kotak dan Pria Berjambang Pirang




Aku termenung saat seseorang datang menghampiriku untuk kemudian menatapku dengan sorot mata yang amat tajam. Teh kotak yang ada digenggamanku, nyaris terjatuh jika saja tidak tersangkut pada lekukan kakiku yang tengah duduk dalam sebuah bangku panjang. Aku kaget bukan kepalang saat tiba-tiba orang tersebut makin mendekatkan wajahnya 50 cm di depan wajahku. Mataku semakin terbelalak dan seketika pikiranku dipenuhi oleh oleh banyak prasangka. Pria itu masih belum melepaskan pandangannya. Ia justru malah semakin menambah gerakan dengan bergeser ke kanan dan ke kiri seolah ingin melihat detail pada area kepalaku. Aku mengikuti arah gerakan kepalanya layaknya seseorang sedang bercermin. Aku masih berpikir, sebenarnya apa yang membuat pria ini tertarik sedemikian rupa terhadapku? Hal yang tak pernah ku jumpai sebelumnya saat berada di kampung halamanku dulu.

“Heeey, apa yang kau lakukaaan?”, Aku menggerutu, dan kali ini aku telah menyadari ada sesuatu yang salah dengan pria itu.

Pria itu masih bungkam. Wajahnya masih menyisir kepalaku. Kini tak hanya diam pada satu tempat, ia mulai mengelilingiku bahkan kini ia tak hanya melihat area kepalaku saja, ia berputar mengitari bangku yag sedang ku duduki. Ia mulai melihat secara detait dari bawah hingga atas, belakang, samping, semuanya! Ia tak tertinggal sedikit pun detail atas apa yang sedang ku gunakan. Sesekali dahinya mengernyit. Entah itu tanda jijik, heran,bingung atau apapun itu, sesuka hatinya mengartikan.

“Oke, Sir! Enough! What are you doing here!” Aku berdiri sambil mengehentakka kaki dan jelas menampakkan raut emosi diwajahku. Kali ini sudah tidak bisa tinggal diam! Teh kotak yang masih berisi setengah sudah jatuh dengan sedotan yang telah memisahkan diri. Kau bisa bayangkan mengapa demikian? Saat teh itu jatuh, aku masih menggigit sedotannya dan barulah saat aku berkata emosi pada pria itu, sedotan itu jatuh berdampingan dengan pasangannya, teh kotak.

Pria itu masih diam, terus-terusan diam dan merasa heran. Aku semakin emosi dengan tingkah lakunya. Ditambah dengan jambang pirangnya serta hidungnya yang begitu tinggi seolah sedang mengejekku “Ih, kamu pesek banget sih!”, Ah, kalau yang ini jelas aku yang sedikit minder. Ini perasaanku saja yang jauh di lubuk hatiku paling dalam, yang lebih jauh dari yang kau bayangkan. Namun aku masih tetap emosi. Ingin rasanya aku menginjak teh kotak yang kini persis 10 cm di sebelah kakiku agar isinya memutahkan diri lewat lubang kecil dan setidaknya mengenai saptu atau celana si pria kurang ajar itu. Namun urung ku lakukan, karena ternyata lubangnya mengarah ke rok panjangku. Sial, gagal akting ala-ala film.
Pria itu kini sudah bermuka datar, ia sedikit tersenyum dan seolah menghina.

“Hmm.. Interesting..” gumamnya sambil membalikkan badan dan pergi meninggalkanku dengan tangan yang dimasukkan ke dalam salah satu sakunya.

“Whaaaattttt? Dari tadi diliatin udah macam kayak barang di museum, cuma dikatain “menarik?” Dikira gue gerobak apa harus ditarik? Eh tapi sejak kapan gerobak ditarik? Azzzzz

Aku kembali duduk di bangku sambil menghentakkan kaki. Sebal bukan main! Menggerutu tiada habisnya. Aku menunduk. Kulihat sehelai kain berwarna pink muda yang menempel di dadaku. Aku terdiam. Menyentuhnya. Aku mulai tersadar terkait apa yang menjadi perhatian pria berjambang pirang itu. Aku menyentuh kepalaku dengan kedua tangan. Merasakan detail katun yang ku kenakan. Aku mulai sadar bahwa inilah yang menyebabkan pria berjambang pirang itu melihatku seperti barang antik di museum. Aku tertunduk, lalu kemudian menengadah. “Allah.. apakah sedemikian beratnya beban kaum Muhammad untuk menjalankan perintahMu?”. Aku mulai sadar bahwa jilbab inilah yang membuat pria itu merasa ada yang tak lazim denganku.

Aku kembali menyadari bahwa ini bukan lingkungan yang mencintai bermacam budaya, seperti yang terjadi di kampungku. Ini adalah tempat dimana ada sekelompok orang yang tidak menyukai caraku menjalani kehidupan, menaati aturanNya dan mengenakan sesuatu yang bagi mereka tak lazim untuk dilihat. Pun denganku yang terlalu frontal dengan daerah yang bukan tempat kelahiranku dan tidak sepenuhnya memahami budaya pria berjambang pirang itu. Ya, negara dengan julukan Paman Sam ini kiranya bukan tempat sembarangan untuk menampilkan sesuatu yang tak biasa. Barangkali memang sudah banyak muslimah yag serupa denganku, namun agaknya aku sekarang berada di sebuah kota yang asing dengan pakaianku. Sebuah pedalaman Amerika yang harus ditempuh 5 jam dari pusat kota yang aku sendiri masih asing dengan nama kota ini. Bukan lagi asing, karena aku masih belum tahu kota apa yang sedang ku jejaki sekarang, karena..

“Mbak Aniiiin. Udah belum pakai jilbabnyaaa? Jadi mau ke tukang stempel nggak? Ayo buruaaaan!!”

“Iyaa iyaa Siiiit. Sebentaaar. Masih pakai peniti niiih. Waiiit”

*

Perjalananku dimulai. Aku mengendarai sepeda motorku ke arah timur kota Semarang. Siti sudah ku turukan dengan bijak (?) sedari di depan kampus tadi. Mengapa dikatakan dengan bijak? Begini ceritanya..
Siti mulai menaiki Yamaha Soul GT ungu milikku. Duduk membonceng samping.

“Udah, Mbak”.. katanya mendandakan bahwa motor siap melaju.

“Sit...”

“Iyaa.. Kenapa Mbak?”

“Kamu kenapa mau pakai jilbab lebar?”

“Aku suka liat Mbak-Mbaknya pakai jilbab lebar. Kelihatan anggun. Terus juga lebih terjaga Mbak. Aku ngerasa saat aku pakai ini, temen-temenku apalagi yang cowok udah mulai jaga jarak dan nggak asal main nampol. Juga sering tanya-tanya soal islam meskipun kadang aku nggak tau jawabannya dan biasanya nanya dulu ke Mbak Anin. Hehehe”

“Kamu seneng, Sit? Nggak ngerasa beban?”

“Seneng kok Mbak. Dengan ini aku jadi makin semangat ibadah, pun dengan ini aku semakin berusaha memperbaiki akhlakku, tanpa harus diperintah, rasanya jilbab ini cukup sebagai rem kalau aku udah mulai pengen aneh-aneh Mbak. Kalau dibilang beban, ya jelas beban lah, Mbak. Sampai sekarang aja Mas ku masih suka ngolok-ngolok aku Mbak. Kadang aku nangis, ko segitunya banget. Emangnya salah orang lagi berproses? Ya kayak yang waktu itu aku ceritain ke Mbak Anin.”

“Oooh gitu..Barakallah ya Sit. Allah sayang banget sama kamu. Percayalah, jilbab ini nggak akan menghalangimu, sedikit pun. Kamu akan merasa bahwa dengan ini, minimal apa yang kamu kerjakan menjadi keberkahan tersendiri. Memberikan contoh yang baik tanpa harus menggurui, hanya cukup dicontohkan saja. Besok tantanganmu semakin berat. Tetap pertahankan ya,apapun yang terjadi. Hidayah Allah harus tetap dipertahankan karena istiqomah jauh lebih sulit dibandingkan ketika memulai, karena Allah janjikan pahala yang lebih besar sebanding dengan ujian yang diberikan. Siap-siap naik kelas ya!”

“Ahahaha. Siaaap Mbaaak. Loooh Mbaaak, ini kita mau kemana? Kok muter-muter?”

“Ke kampus kan? Ini kan bisa jalannya juga. Sengaja diputerin betar biar critanya selesai. Hehehe”

“Aaah Mbak Anin, ada-ada aja..”

*

Aku melanjutkan perjalananku menuju arah timur kota, sepanjang perjalanan aku terus-terusan memikirkan khayalanku sedari memakai jilbab di kos tadi dan sedikit motivasi berjilbab Siti tadi. Aku berpikir bahwa sebenarnya hakikat orang hidup bukankah untuk mengabdi? Namun mengapa banyak orang belum sadar pun denganku yang terkadang sering kali keluar jalur dan harus buru-buru kembali agar tidak semakin memperparah keadaan batinku. Aku kembali berpikiri mengapa orang-orang barat begitu anti terhadap Islam? Islamophobia, ya itu dia istilahnya. Aku kembali mengenang sejarah Rasulullah yang belum sepenuhnya aku selesai membaca. Aku ingat bahwa rasulullah pun pada mulanya hanya diikuti sekelompok kecil dan melewati berbagai cercaan, hinaan, penolakan hingga peperangan yang harus dihadapi hanya dengan sebuah misi yang kuat, menyebarkan agama Islam yang mulia ini. Denganbegitu sabarnya Rasulullah yang penuh kesabaran dengan hinaan, aku hanya di lihat oleh orang berjambang pirang saja marahnya bukan main. Yaaah terlepas itu khayalan atau bukan, yang jelas kalau benar-benar terjadi kemungkinan besar itu yang akan aku lakukan.

Aaah, aku semakin memahami hakikat kenapa setiap umat islam sebenarnya diwajibkan untuk menebar kebaikan, berdakwah agar semakin banyak orang mengetahui apa itu Islam yang sebenarnya. Meskipun aku mengetahui bahwa ilmu ku dikatakan belum seberapa, namun aku bisa memulai menebar kebaikan atas ilmu yang perlahan sedang ku pelajari. Sederhananya seperti makan dengan kanan. Bahkan masih banyak orang yang belum tahu  dan menyadari bahwa makan dengan kanan adalah perintah rasululah, bukan sekedar kebiasaan. Bahwa makan dengan tangan kiri ditambah tanpa bismillah sama halnya dengan syetan yang masuk lewat makanan kita dan mengaliri darah kita.

Haahhh, cara Allah memang selalu indah jika kita menyadarinya. Apaagi ditambah bayangan keindahan surga dan keganasan neraka. Duuuh, mau yang baik-baik aja deh kalau bisa!

*

“Loooh looh. Ini aku dimana sih? Loooh.. Kok mobil semua?? Kok sepi gini jalannya, perasaan bukan kayak gini deh jalan biasanya.” Kurang lebih 1 km aku menempuh jalan asing itu dan masih belum menyadari ini jalan apa dan dimana.

“INNALILLAHI! ASTAGHFIRULLAH! INI KAN JALAN TOOOOLLL!! KOK BISA SIIIIIH MASUK SINIIII...” Aku berteriak kalang kabut disertai dengan degupan jantung yang semakin kencang. Motor unguku masuk jalan tol dan udah jauh bangeeet! Aku panik setengah mati, karena ini memang hidup dan mati. Aku segera berbalik arah. Melipir ke kanan jalan sembari diklakson berbagai mobil dan truk-truk kontainer besar. Sesekali aku mengehentikan laju motorku untuk menunggu mobil itu melaju berlawanan arah disertai dengan hembusan angin yang kencang dan menempa motorku. Ya Alah, rasanya pengen cepet ketemu persimpangan jalan! 

Kurang lebih 8 menit aku menempuh perjalanan mengerikan itu. Tiba disebuah persimpangan  dan terlihat orang-orang yang tengah berhenti di lampu merah melihat ke arah jalanku. Mungkin mereka heran mengapa ada motor keluar dari jalan tol (?) Aku segera masuk ke gang di samping jalan. Menenangkan diri, melepas sarung tangan dan masker. Segera mengambil smarphone dan mengetikkan sebuah pesan Whatsapp..

Abiiiii T.T T.T T.T

Takuuuuttt

Lemeeess

Hani abis nglantur lagi. Naik motor lewat jalan tol

Dan itu jauh T.T

Terlihat nama kontak diatas layar “Suami tercinta”..

-End-

Cerita ini merupakan kisah nyata pada bagian nyasar dijalan tol termasuk teks Whatsapp tersebut. Berhubung screenshootnya belum bisa dikirim ke laptop, jadi nggak ikut di post :D
2

KEBAHAGIAAN DAN UJIAN



Menjadi seorang mahasiswi sekaligus ibu rumah tangga tentu ada kebahagiaan yang diiringi dengan ujian. Semenjak 25 Juli 2015 lalu yang merupakan titik awal saya menjalani status sebagai seorang istri selepas akad nikah berlangsung, tentu kini saya tak lagi berjuang sendiri dan melakukan segala sesuatu semau saya sendiri. Ada yang harus “dipamiti” sebelum saya melakukan suatu hal, sekecil apapun. Jika dulu, saya izin pada ibu saya meskipun tidak semua hal, dan cenderung hanya meminta doa saja, kali ini harus lebih mendetail karena ini terkait dengan detail tujuan yang diharapkan. Sementara dulu, jika dianggap baik, maka lakukanlah, mumpung masih muda. Kalau sekarang, melakukan sesuatu bukan sekedar “mumpung masih muda” tetapi “harus sukses” ketika memutuskan suatu kegiatan. Kata “harus sukses” disini bukan berarti memaksakan kehendak sampai melalaikan segala sesuatunya. Sukses ini berarti bahwa apa-apa yang kita lakukan sebaiknya lewat pemikiran yang matang yang diiringi dengan persiapan. Tak hanya “sekedar jalan” apalagi “mencari kesibukan”. Apa-apa yang dilakukan semestinya harus mempertimbangkan dampak apa yang akan dihasilkan setelah melakukan itu. Jika yang kita lakukan sepenuhnya tidak membuat kita semakin bertumbuh atau justru semakin membuat kita terpuruk, maka tinggalkan!

Sejujurnya, saya tipe orang yang kurang tegas dalam memgambil keputusan dan cepat terbawa dengan lingkungan *hiks. Hal ini terlihat sejak saya masih kecil dulu. Saya tak mempunyai keinginan sekuat Pak Habibie yang ingin membuat pesawat sejak kecil. Sedangkan saya? Duh, cita-cita aja gonta-ganti mulu! Huft. Liat orang kerja enak dan keren pengen gitu. Liat ternyata kerjaan itu nggak enak, terus nggak jadi. Duhduh! Bahkan untuk urusan sekolah saja saya dibantu oleh ibu saya setiap kali mengambil keputusan. Saya sih mikirnya ridhanya Allah ridhanya orang tua. Tapi ternyata saya salah. Bukan karena salah mempercayai hadits tersebut, tapi saya salah karena tidak mempunyai sebuah tujuan yang jelas dan menyerahkan keputusan itu terhadap ibu saya dan saya maunya “nurut aja”. Maka yang terjadi adalah, yaaa berprestasi sih, tapi tidak memberikan sebuah kepuasan karena rasanya ini bukan saya. Yaps, jawabannya adalah kurang mengenal diri.

Berbeda halnya dengan suami saya, dimana saat ia memiliki sebuah keinginan, cenderung orang tuanya melarang. Misal ingin di SMA A, namun dilarang dan akhirnya masuk ke sekolah B. Mau jurusan IPS, disuruhnya IPA. Mungkin sekilas sama dengan saya, dalihnya adalah nurut dengan orang tua. Namun bedanya adalah saya yang tidak memiliki keinginan dan cenderung mengikuti arus saja. Sekolah, ikut pelajaran dengan bener, nilai baik, ada prestasi, cukup. Sedangkan dia yang memiliki keinginan tertentu meskipun akhirnya harus “nurut”, memang bekerja sesuai dengan kemampuannya, namun keinginan kerasnya tetap terjaga terhadap apa yang di cita-citakannya. Pekerjaan dijadikan sebuah pengabdian terhadap orang tua dan negara yang berarti ibadah terhadap Allah, dan keinginan yang belum tercapai ia tetap lakukan sebagai pemicu kemampuan yang sesungguhnya. 

Kalau sudah demikian, berarti kalian beda dong? Yapp, secara karakter memang beda, namun secara visi, insya Allah sama, yakni dapat menginspirasi jutaan orang di Indonesia. Ketika masuk kuliah dan merasakan hidup mandiri penuh peluh di perantauan, saya banyak belajar dari banyak orang disekeliling saya. Mengikuti berbagai seminar dan pelatihan yang memacu diri saya untuk mengetahui apa tujuan hidup saya sebenarnya. Tujuan hidup yang sesekali saya lupa dan terlena dengan aktivitas harian yang itu-itu saja yang kemudian saya sadar “Kok aku gini-gini aja sih?” maka seperti motor yang sudah hampir menabrak trotoar, saya lekas perbaiki kemudi dan menempuh “jalur” yang semestinya.

Menyadari potensi yang ada dalam diri, tak ubahnya mampu mengaplikasikannya dengan baik. Bisa nulis, tapi belum tentu bisa menerbitkan buku. Bisa jualan, namun belum tentu jadi pebisnis sukses. Semua bakat itu memang harus selalu diasah dengan baik lewat komitmen yang ada di dalam diri yang saya pun sedang belajar untuk mengaplikasikan kata “komitmen” tersebut. Komitmen yang dibarengi dengan keistiqamahan yang membuat bakat menjadi semakin terasah dengan baik, begitu kata guru-guru saya. Saya sering kecewa dengan diri saya, kenapa dengan mudahnya memaklumkan diri dan keadaan padahal saya tahu, untuk jadi sukses caranya nggak bisa setengah-setengah. Yaaa, seperti menulis ini. Saya tahu bisa tapi daya juangnya yang masih kurang. Maka disinilah peran seorang partner sehidup-seperjuangan, suami. Sabar untuk mengingatkan dan manasihati istrinya. Membimbingnya dengan baik untuk sama-sama menuju “karpet merah” terhadap karya yang hendak disajikan. 

Maka, kebahagiaan seorang istri ialah saat suaminya mendukung dan mengiringi secara penuh atas kemampuan yang dimiliki sang istri, dan ujiannya ialah bagaimana seorang istri mampu mengemban amanah dan menyadari bahwa perjuangan itu tidak hanya di batin saja, tetapi tangan dan kaki harus tetap menyertai serta pikiran yang selalu diasah agar tajam dalam menentukan masa depan.
Ayo berjuang!


0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com