Tampilkan postingan dengan label mahasiswi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahasiswi. Tampilkan semua postingan

Menulis Menumbuhkan Rasa


Menulis itu menumbuhkan rasa. Akan ada makna yang ditimbulkan dari setiap kata yang ditorehkan. Barangkali, itu hanya sebait kalimat dar seseorang yang tidak kau ketahui apa maksudnya. Namun percayalah bahwa itu adalah gambaran rasa dari penulisnya. Bahkan, karakter seseorang dapat terlihat bagaimana caranya menata kalimat untuk dijadikan rujukan dalam mencapai apa yang diinginkan.

 Dulu aku selalu berpikir, untuk menulis tentang apa yang ku suka. Tulis apapun yang aku ingin tulis. Namun, malam tadi, aku belajar sesuatu dari seorang guru yang lebih dahulu terjun dalam dunia kepenulisan. Menulis sebagai sarana untuk dijadikan sebuah ibadah, katanya. Sehingga, semangat kita tak akan pernah rapuh saat hal yang paling diingat ialah pahala yang Allah janjikan. Selalu menyadari bhwa hidup ini penuh arti dan memiliki berbragai hikmah yang bisa diambil, dan sarana yang paling kuat agar kita tidak lupa ialah dengan menulisannya, sehingga suatu saat kita bisa kembali membuka catatan agar senantiasa mengevaluasi diri dari hari ke hari. Hal lain yang ia katakan, bahwa seorang penulis yang baik adalah bukan karena ia menyukai topik yang kerap kali ia tulis, melainkan aktivitas menulisnyalah yang ia cintai. Baik genre cinta, motivasi, fiksi, bahkan karya ilmiah sekalipun, penulis hebat tidak pernah mengeluhkannya. Ia cinta menulis dan ia melihat kebutuhan akan dirinya atas apa yag hendak ia tuliskan. Ia melihat masalah yang ada untuk mempertajam analisa untuk menciptakan solusi,  ia peduli dengan saudaranya sehingga menciptakan barisan kalimat pencerahan untuk kehidupannya. Ia memahami bahwa keyakinannya atas sebuah kebaikan harus ia sampaikan ke penduduk yang ada di belahan dunia, sehingga ia menuliskannya untuk kemudian ia sebarkan sebagai misi perdamaian.

Beberapa bulan belakangan, tepatnya setelah menikah,  jemari ini rasanya kelu sekali untuk sekedar mengayunkan pena atau menari diatas keyboard komputer. Rasanya tak ada gairah sama sekali untuk menuangkan segala perasaan. Padahal sebelumnya, aku senang saat aku meluangkan waktu untuk menulis dan menceritakan pengalaman atas kejadian yang aku alami pada hari itu. Ternyata, aku baru menyadari, barangkali salah satu alasan mengapa aku tidaka bergairah menulis ialah karena aku telah memiliki orang yang senantiasa setia mendengarkan segala ceritaku. Sehingga aku terlena untuk tidak menuliskannya. Kalimat itu tentu membuat sebuah makna. Bagiku, dan suamiku. Memang tak ada salahnya, justru itu menimbulkan kehangatan antara suami istri. Namun, jika aku hanya menceritakan apa yang kualami kepadanya saja, lantas kemudia suara yang telah ku keluarkan hanya akan menjadi angin yang sampai pada satu orang dimana kelak ingatan akan cerita tersebut hanya bermakna sementara. Tak membekas. Hanya tawa atau air mata sesaat. Selebihnya bagai hembusan angin yang tak berwujud dan tidak tahu kemana arah perginya.

Aku mulai mencoba kembali mencintai aktivitas ini. Aktivitas dimana aku bisa mengekspresikan segala perasaan sekaligus menjadi tolak ukur sejauh mana kepedulianku terhadap orang disekitarku. Karena pada dasarnya, menulis adalah salah satu bukti atas pengamatan kita sehari-hari. Menjadikan orang lain menjadi inspirator kehidupan. Menjadikan kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang sanantiasa menggairahkan dan tentunya akan menjadi makna baru dalam kehidupan.
Jika 1 peluru dapat menemus 1 kepala, maka 1 kata dapat menembut jutaan kepala. Banyak orang merasa hidupnya berubah hanya dengan beberapa kata yang terlontar atau tertulis. Pilihannya hanya 2, baik atau buruk. Jika kau melontaran keburukan, maka yang terluka adalah hati orang-orang yang membaca atau mendengarnya. Mereka terluka, kita pun sebenarnya terluka meski merasa “menang” dalam sebuah adu pendapat. Padahal, bekasnyak tidak mudah untuk dihiangkan. Dosanya? Wallahualam, yang jelas, menyakiti hati saudara merupakan suatu hal yang tidak Allah sukai.

Sebaliknya, saat kau berkonsentrasi untuk menciptakan satu kebaikan yang bisa menimbulkan perubahan positif terhadap orang-orang disekitarmu, maka bagimu 2 pahala kebaikan sekaligus. Pahala mengingatkan dan pahala apabila orang tersebut mengerjakan apa yang kamu sarankan tanpa merugikannya.
Ikatlah ilmu dengan tulisan. Dengannya, kau bisa kembali merasakan pesona keindahan kejadian masa lalu yang menakjubkan atau bahkan menyakitkan, namun tentunya banyak pelajaran yang akan kau dapatkan. Memang, satu hal yang paling jauh dari hidup kita diantaranya adalah masa lalu. Ya, kau tak boleh mengingatnya sehingga menimbulkan dampak negatif dalam dirimu. Tapi kau dapat mengambilnya untuk sebuah peluru yang bisa kau luncurkan sebagai bahan mempersiapkan masa depan dan tidak ingin terjerembab di lubang yang sama. Peluru hikmah yang senantiasa kau ambil untuk dijadikan pelajaran bagi dirimu dan orang lain.


0

KEBAHAGIAAN DAN UJIAN



Menjadi seorang mahasiswi sekaligus ibu rumah tangga tentu ada kebahagiaan yang diiringi dengan ujian. Semenjak 25 Juli 2015 lalu yang merupakan titik awal saya menjalani status sebagai seorang istri selepas akad nikah berlangsung, tentu kini saya tak lagi berjuang sendiri dan melakukan segala sesuatu semau saya sendiri. Ada yang harus “dipamiti” sebelum saya melakukan suatu hal, sekecil apapun. Jika dulu, saya izin pada ibu saya meskipun tidak semua hal, dan cenderung hanya meminta doa saja, kali ini harus lebih mendetail karena ini terkait dengan detail tujuan yang diharapkan. Sementara dulu, jika dianggap baik, maka lakukanlah, mumpung masih muda. Kalau sekarang, melakukan sesuatu bukan sekedar “mumpung masih muda” tetapi “harus sukses” ketika memutuskan suatu kegiatan. Kata “harus sukses” disini bukan berarti memaksakan kehendak sampai melalaikan segala sesuatunya. Sukses ini berarti bahwa apa-apa yang kita lakukan sebaiknya lewat pemikiran yang matang yang diiringi dengan persiapan. Tak hanya “sekedar jalan” apalagi “mencari kesibukan”. Apa-apa yang dilakukan semestinya harus mempertimbangkan dampak apa yang akan dihasilkan setelah melakukan itu. Jika yang kita lakukan sepenuhnya tidak membuat kita semakin bertumbuh atau justru semakin membuat kita terpuruk, maka tinggalkan!

Sejujurnya, saya tipe orang yang kurang tegas dalam memgambil keputusan dan cepat terbawa dengan lingkungan *hiks. Hal ini terlihat sejak saya masih kecil dulu. Saya tak mempunyai keinginan sekuat Pak Habibie yang ingin membuat pesawat sejak kecil. Sedangkan saya? Duh, cita-cita aja gonta-ganti mulu! Huft. Liat orang kerja enak dan keren pengen gitu. Liat ternyata kerjaan itu nggak enak, terus nggak jadi. Duhduh! Bahkan untuk urusan sekolah saja saya dibantu oleh ibu saya setiap kali mengambil keputusan. Saya sih mikirnya ridhanya Allah ridhanya orang tua. Tapi ternyata saya salah. Bukan karena salah mempercayai hadits tersebut, tapi saya salah karena tidak mempunyai sebuah tujuan yang jelas dan menyerahkan keputusan itu terhadap ibu saya dan saya maunya “nurut aja”. Maka yang terjadi adalah, yaaa berprestasi sih, tapi tidak memberikan sebuah kepuasan karena rasanya ini bukan saya. Yaps, jawabannya adalah kurang mengenal diri.

Berbeda halnya dengan suami saya, dimana saat ia memiliki sebuah keinginan, cenderung orang tuanya melarang. Misal ingin di SMA A, namun dilarang dan akhirnya masuk ke sekolah B. Mau jurusan IPS, disuruhnya IPA. Mungkin sekilas sama dengan saya, dalihnya adalah nurut dengan orang tua. Namun bedanya adalah saya yang tidak memiliki keinginan dan cenderung mengikuti arus saja. Sekolah, ikut pelajaran dengan bener, nilai baik, ada prestasi, cukup. Sedangkan dia yang memiliki keinginan tertentu meskipun akhirnya harus “nurut”, memang bekerja sesuai dengan kemampuannya, namun keinginan kerasnya tetap terjaga terhadap apa yang di cita-citakannya. Pekerjaan dijadikan sebuah pengabdian terhadap orang tua dan negara yang berarti ibadah terhadap Allah, dan keinginan yang belum tercapai ia tetap lakukan sebagai pemicu kemampuan yang sesungguhnya. 

Kalau sudah demikian, berarti kalian beda dong? Yapp, secara karakter memang beda, namun secara visi, insya Allah sama, yakni dapat menginspirasi jutaan orang di Indonesia. Ketika masuk kuliah dan merasakan hidup mandiri penuh peluh di perantauan, saya banyak belajar dari banyak orang disekeliling saya. Mengikuti berbagai seminar dan pelatihan yang memacu diri saya untuk mengetahui apa tujuan hidup saya sebenarnya. Tujuan hidup yang sesekali saya lupa dan terlena dengan aktivitas harian yang itu-itu saja yang kemudian saya sadar “Kok aku gini-gini aja sih?” maka seperti motor yang sudah hampir menabrak trotoar, saya lekas perbaiki kemudi dan menempuh “jalur” yang semestinya.

Menyadari potensi yang ada dalam diri, tak ubahnya mampu mengaplikasikannya dengan baik. Bisa nulis, tapi belum tentu bisa menerbitkan buku. Bisa jualan, namun belum tentu jadi pebisnis sukses. Semua bakat itu memang harus selalu diasah dengan baik lewat komitmen yang ada di dalam diri yang saya pun sedang belajar untuk mengaplikasikan kata “komitmen” tersebut. Komitmen yang dibarengi dengan keistiqamahan yang membuat bakat menjadi semakin terasah dengan baik, begitu kata guru-guru saya. Saya sering kecewa dengan diri saya, kenapa dengan mudahnya memaklumkan diri dan keadaan padahal saya tahu, untuk jadi sukses caranya nggak bisa setengah-setengah. Yaaa, seperti menulis ini. Saya tahu bisa tapi daya juangnya yang masih kurang. Maka disinilah peran seorang partner sehidup-seperjuangan, suami. Sabar untuk mengingatkan dan manasihati istrinya. Membimbingnya dengan baik untuk sama-sama menuju “karpet merah” terhadap karya yang hendak disajikan. 

Maka, kebahagiaan seorang istri ialah saat suaminya mendukung dan mengiringi secara penuh atas kemampuan yang dimiliki sang istri, dan ujiannya ialah bagaimana seorang istri mampu mengemban amanah dan menyadari bahwa perjuangan itu tidak hanya di batin saja, tetapi tangan dan kaki harus tetap menyertai serta pikiran yang selalu diasah agar tajam dalam menentukan masa depan.
Ayo berjuang!


0

Gumpalan Kepekaan


Siang tadi, saat kami sedang bersama dalam sebuah forum, aku mendapati sebuah kejadian unik. Sebenarnya terlihat biasa, namun bagiku ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tingkat kepekaan kuat untuk sebuh kebaikan, meski hanya sebatas.. Membuang sampah.

*
Aku tengah menghimpun beberapa bekas air mineral yang berjatuhan dilantai. Ku kumpulkan diatas meja lipat dengan tidak beraturan. "Ah, mau dibuang juga kan", pikirku.

Saat aku kembali menengadah di kursiku, seorang perempuan dibelakangku mengatakan

" Mba Anin....", dengan suara lirih namun tegas.

"Iya? Kenapa Wenny?"

"Biar aku aja, Mba, yang buang sampahnya".

Aku tersenyum seraya mengacungkan jempol. Entahlah, tiba-tiba di dalam benakku mengatakan, " Ah, fastabiqul khairat nih!"

*

Bagi mereka yang tidak mempunyai kepekaan hati yang utuh, rasanya melirik pun tidak, atau bahkan justru malah bersyukur. Malah kadang ada yang sama sekali tidak peduli. Ujung-ujungnya panitia atau yang terakhir meninggalkan ruangan yang kena apesnya.

Sebenarnya, aku rugi. 1 pahala kebaikan ku limpahkan ke Wenny. Namun, dengan sigap sebelum Wenny meraih gundukan sampah, aku memasang badan dan menggapai angle sebaik mungkin untuk mengambil gambar ini. Ada kebaikan lain yang bisa ku raih! Menyulap kejadian ini dengan yanh sedang ku lakukan ini. Agar kebaikan Wenny pun serta merta menimbulkan kebaikan yang lain.

Terima kasih Wenny, ada banyak sekali kebaikanmu yang "terselubung" semasa kita dalam satu divisi di @bai_udinus. Tetap timbulkan kebaikan dan kita saling bersinergi untuk mempraktikkan dan membagikannya ya!

0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com