Menjadi seorang mahasiswi
sekaligus ibu rumah tangga tentu ada kebahagiaan yang diiringi dengan ujian.
Semenjak 25 Juli 2015 lalu yang merupakan titik awal saya menjalani status
sebagai seorang istri selepas akad nikah berlangsung, tentu kini saya tak lagi
berjuang sendiri dan melakukan segala sesuatu semau saya sendiri. Ada yang
harus “dipamiti” sebelum saya melakukan suatu hal, sekecil apapun. Jika dulu,
saya izin pada ibu saya meskipun tidak semua hal, dan cenderung hanya meminta
doa saja, kali ini harus lebih mendetail karena ini terkait dengan detail
tujuan yang diharapkan. Sementara dulu, jika dianggap baik, maka lakukanlah,
mumpung masih muda. Kalau sekarang, melakukan sesuatu bukan sekedar “mumpung
masih muda” tetapi “harus sukses” ketika memutuskan suatu kegiatan. Kata “harus
sukses” disini bukan berarti memaksakan kehendak sampai melalaikan segala
sesuatunya. Sukses ini berarti bahwa apa-apa yang kita lakukan sebaiknya lewat
pemikiran yang matang yang diiringi dengan persiapan. Tak hanya “sekedar jalan”
apalagi “mencari kesibukan”. Apa-apa yang dilakukan semestinya harus
mempertimbangkan dampak apa yang akan dihasilkan setelah melakukan itu. Jika
yang kita lakukan sepenuhnya tidak membuat kita semakin bertumbuh atau justru
semakin membuat kita terpuruk, maka tinggalkan!
Sejujurnya, saya tipe orang yang
kurang tegas dalam memgambil keputusan dan cepat terbawa dengan lingkungan
*hiks. Hal ini terlihat sejak saya masih kecil dulu. Saya tak mempunyai
keinginan sekuat Pak Habibie yang ingin membuat pesawat sejak kecil. Sedangkan
saya? Duh, cita-cita aja gonta-ganti mulu! Huft. Liat orang kerja enak dan
keren pengen gitu. Liat ternyata kerjaan itu nggak enak, terus nggak jadi.
Duhduh! Bahkan untuk urusan sekolah saja saya dibantu oleh ibu saya setiap kali
mengambil keputusan. Saya sih mikirnya ridhanya Allah ridhanya orang tua. Tapi
ternyata saya salah. Bukan karena salah mempercayai hadits tersebut, tapi saya
salah karena tidak mempunyai sebuah tujuan yang jelas dan menyerahkan keputusan
itu terhadap ibu saya dan saya maunya “nurut aja”. Maka yang terjadi adalah,
yaaa berprestasi sih, tapi tidak memberikan sebuah kepuasan karena rasanya ini
bukan saya. Yaps, jawabannya adalah kurang mengenal diri.
Berbeda halnya dengan suami saya,
dimana saat ia memiliki sebuah keinginan, cenderung orang tuanya melarang.
Misal ingin di SMA A, namun dilarang dan akhirnya masuk ke sekolah B. Mau
jurusan IPS, disuruhnya IPA. Mungkin sekilas sama dengan saya, dalihnya adalah
nurut dengan orang tua. Namun bedanya adalah saya yang tidak memiliki keinginan
dan cenderung mengikuti arus saja. Sekolah, ikut pelajaran dengan bener, nilai
baik, ada prestasi, cukup. Sedangkan dia yang memiliki keinginan tertentu
meskipun akhirnya harus “nurut”, memang bekerja sesuai dengan kemampuannya,
namun keinginan kerasnya tetap terjaga terhadap apa yang di cita-citakannya.
Pekerjaan dijadikan sebuah pengabdian terhadap orang tua dan negara yang
berarti ibadah terhadap Allah, dan keinginan yang belum tercapai ia tetap
lakukan sebagai pemicu kemampuan yang sesungguhnya.
Kalau sudah demikian, berarti
kalian beda dong? Yapp, secara karakter memang beda, namun secara visi, insya
Allah sama, yakni dapat menginspirasi jutaan orang di Indonesia. Ketika masuk
kuliah dan merasakan hidup mandiri penuh peluh di perantauan, saya banyak
belajar dari banyak orang disekeliling saya. Mengikuti berbagai seminar dan
pelatihan yang memacu diri saya untuk mengetahui apa tujuan hidup saya
sebenarnya. Tujuan hidup yang sesekali saya lupa dan terlena dengan aktivitas
harian yang itu-itu saja yang kemudian saya sadar “Kok aku gini-gini aja sih?”
maka seperti motor yang sudah hampir menabrak trotoar, saya lekas perbaiki
kemudi dan menempuh “jalur” yang semestinya.
Menyadari potensi yang ada dalam
diri, tak ubahnya mampu mengaplikasikannya dengan baik. Bisa nulis, tapi belum
tentu bisa menerbitkan buku. Bisa jualan, namun belum tentu jadi pebisnis
sukses. Semua bakat itu memang harus selalu diasah dengan baik lewat komitmen
yang ada di dalam diri yang saya pun sedang belajar untuk mengaplikasikan kata “komitmen”
tersebut. Komitmen yang dibarengi dengan keistiqamahan yang membuat bakat
menjadi semakin terasah dengan baik, begitu kata guru-guru saya. Saya sering
kecewa dengan diri saya, kenapa dengan mudahnya memaklumkan diri dan keadaan
padahal saya tahu, untuk jadi sukses caranya nggak bisa setengah-setengah. Yaaa,
seperti menulis ini. Saya tahu bisa tapi daya juangnya yang masih kurang. Maka
disinilah peran seorang partner sehidup-seperjuangan, suami. Sabar untuk
mengingatkan dan manasihati istrinya. Membimbingnya dengan baik untuk sama-sama
menuju “karpet merah” terhadap karya yang hendak disajikan.
Maka, kebahagiaan seorang istri
ialah saat suaminya mendukung dan mengiringi secara penuh atas kemampuan yang
dimiliki sang istri, dan ujiannya ialah bagaimana seorang istri mampu mengemban
amanah dan menyadari bahwa perjuangan itu tidak hanya di batin saja, tetapi
tangan dan kaki harus tetap menyertai serta pikiran yang selalu diasah agar
tajam dalam menentukan masa depan.
Ayo berjuang!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar positifmu akan semakin membangkitkan gairah menulisku :)