Tunggu sebentar...
Menjaga dari apa? Agar tidak dicuri orang? Agar tidak ditenggelamkan
banjir? Atau menjaga dari apa? Dan sebenarnya apa yang dijaga?
HATI. Ya, itu yang paling utama.
Dalam tubuhku terdapat segumpal daging yang apabila ianya bersih maka kebajikan
lah yang senantiasa menyertai dalam langkah hidupku.
Namun, celakalah bagiku jika
segumpal daging itu berisikan noktah-noktah hitam yang semakin menghitam dan
menggelapkan. Aku seakan buta dengan kebenaran dan kebathilan turut serta dalam
pandangan yang begitu mengasyikkan. Itukah yang aku mau?
...
Aku terlalu egois. Aku
menghendaki semua yang aku kehendaki harus terjadi. Berdoa sejadi-jadinya namun
saat sudah diberi, lari dan seakan lupa siapa yang memberi.
Atau bahkan, aku terlalu cuek?
Tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Sulit mendapat pekerjaan, kebutuhan
yang semakin menghimpit dan kekosongan hati yang tengah merindu dambaan hati,
tak kunjung menghampiri. Aku terlalu cuek, sampai-sampai aku tak menyadari
bahwa itu salah satu caraNya menegurku agar aku senantiasa kembali ke
fitrahNya. Fitrah menjadi manusia yang tidak akan bisa menjadi apapun tanpaNya.
Aku semakin menjauh, namun semakin tak sadar. Semakin menyalahkan keadaan,
parah-parahnya menyalahkan orang terdekat. Bukan menjadi apa yang ku mau, malah
menjadi semakin kacau. Dan akhirnya aku memutuskan untuk sendiri. Menganggap
bahwa tidak ada lagi orang yang peduli.
Bukankah itu yang terjadi? Asaku
telah usang dan perangaiku semakin tak karuan.
Ya Tuhan, inikah caraMu
menyadarkanku.
Allah, mudah-mudahan ini bukan
Ramadhan terakhirku. Aku masih ingin menebus dosa-dosaku. Perpanjang
Ramadhanku, Rabb! Ajak aku kembali padaMu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar positifmu akan semakin membangkitkan gairah menulisku :)