Malam ini adalah
malam ke 284 kebersamaan kita. Meskipun raga kita kini tak sedang bersama,
namun satu yang harus kau percaya bahwa aku selalu menganggapmu senantiasa
disisiku. Bahkan selalu di genggamanku. Ya
lewat telepon seluler yang kau berikan untukku sebulan setelah
pernikahan kita. “Ini, biar kamu nggak
susah dihubungi karena perangkatmu yang kamu bilang sering error”, katamu. Aku
terima saja dan tak lupa mengucapkan terima kasi, meskipun aku tahu harganya
melebihi SPP kuliah satu semester. “Nggakpapa,
mumpung ada rezeki. Toh kamu istriku. Kamu senang, aku lebih senang”. Ah,
sejuk.
*
“BRUUUKKK...!!!”
Aku meletakkan
tas ku dilantai, dan tak lupa untuk mengucapkan salam.
“Aniiiiinnnnn..!!”
, teriakkan Mba Ulfa memekakan telinga. Segera aku menyambarnya dan saling
bersalaman serta bersapa kecil.
“Kamu lewat mana?”
“Aku tadi jalan
dari Adi Sucipto, Mba. Nyasar-nyasar masuk-masuk gang. Gila!! Capek juga
ternyata. Wkwkwkwk”
“Hah? Kamu jalan
dari Adi Sucipto? Seriuuuss? Giilaaaa, jauh banget itu!”, sahut seorang
laki-laki berjaket merah bertuliskan AC Milan di belakangnya.
“Nggak jauh
banget sih. Orang di depan UIN situ kok”, kataku heran dengan pernyataan
kagetnya.
“Oooohhh, ku
kira dari bandara Adi Sucipto. Hahahaha”
“Ya
kali dari bandara, udah jelas-jelas tau aku pake travel disambung transjogja”, batinku.
“Eh sebentar..
Masnya ini yang tadi pake jaket merah naik motor supra kan? Nggak pake helm kan
tadi? Kayaknya aku tadi lihat deh. Cuma mau nyapa, tapi nggak yakin”
“Iya bener! Kok
kamu tau? Kenapa nggak bilang aja sih? Tau gitu kan tadi dijemput aja kan.
Kasian jalan kaki, nyasar-nyasar kan, bawaannya lumayan pula”.
Di awal
pertemuan ini, aku tak banyak berkomentar. Sepertinya orang ini tak tahu kalau
aku muslimah yang sangat sukar dibonceng lawan jenis. Tapi yang satu ini,
rasanya percaya diri sekali ia jika aku mau dibonceng olehnya. Memangnya dia
siapa? Huh. Eh, tapi tunggu sebentar, memangnya dia yang akan menjemputku?
Belum tentu juga sih, mengingat disana pun ada beberapa lelaki dan peremuan.
Pede sekali kamu ini, Nin!
“Masuk dulu,
bersih-bersih di dalem”, kata Mba Ulfa memecah kebuntuan otak serta kegusaran
hatiku yang mulai agak risih dengan bayaknya lelaki disekelilingku. Suasana
yang sangat jarang ku dapati di kampus, apalagi di lingkungan anak-anak rohis.
*Nind Arfa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar positifmu akan semakin membangkitkan gairah menulisku :)