#SEMBILAN BELAS - PERTEMUAN (2)



Sebelum membaca episode kedua, yuk baca yang pertama dulu :) == http://anindyarf.blogspot.co.id/2016/06/sembilan-belas-pertemuan-1.html

***
 “... Bu, Mba Anin maunya nanti setelah lulus kuliah”
“Sudahlah, Mba. Kamu mau menunggu apa lagi? Kamu jangan terlalu mengobarkan ambisimu. Jika ini memang ini sudah saatnya, mau menunggu apa lagi? Toh dianya juga nggak masalah kamu masih kuliah. Ibu rasa kamu juga sudah sanggup kok. Kalau sholat adalah ibadah yang tidak boleh ditunda, pun dengan menikah. Keduanya sama-sama ibadah. Jangan ditunda, nanti keburu banyak setan!”
Malam itu, aku masih ingat saat dimana kamu mengungkapkan perihal rencanamu untuk segera mengakhiri masa lajangmu. Kau ini pintar sekali, datang menghampiri ibuku, menjenguk adikku, seharian ngobrol bersama ibu sementara kau ku tinggal kuliah dan mengajar hingga sore. Kala itu, aku sempat bergumam “Kamu kok bisa sampai sini, sih?” dan kau jawab hanya dengan tawa kecil.
Banyak orang yang kaget dan tidak menyangka bahwa aku akan menikah dengan waktu yang sangat singkat dan bahkan jarak perkenalan dan pernikahan hanya 5 bulan saja. Mungkin terkesan mendadak, padahal tidak. Tidak akan pernah ada yang tahu seperti apa aku mencurahkan perasaan pada Allah atas kegalauanku selama ini. Aku dan kamu dalam sebuah forum umum dimana yang menuntut kita harus saling terus berkomunikasi dalam misi kebaikan. Namun sekalipun aku merasa tidak ada kata-kata yang berbau “modus” atau kode-kode ala anak-ana ABG yang hendak memacari teman perempuannya. Sampai-sampai aku saja sampai tidak merasakannya. Namun yang jelas, teman-teman yang ada di forum tersebut terus-terusan membully. Huh! Rasanya waktu itu ingin menangis karena tidak tahan dengan “bully” an yang bernada perjodohan. Zzzzz. Bahkan aku sampai-sampai mau keluar forum, jika saja aku tak ingat mimpiki untuk menginspirasi banyak orang dan forum itu salah satu mediaku menimba ilmu. Celakanya, kamu malah santai saja! Hih, kezel!
***
Kini, kita dalam rangkaian acara yang sangat aku suka. Sebuah training yang melibatkan kita, aku dan kamu dan seorang anak muda yang selama ini hanya ku kenal via sosial media saja. Sepanjang acara, aku duduk paling belakang di 3 kursi yang telah disiapkan untuk kami selaku fasilitator. Aku pojok kanan, kamu tengah dan Mas Dimas paling kiri. Sepanjang training, tentu saja meskipun aku fasil, tak ingin sekalipun melewatkan materi yang disampaikan oleh trainer di depan. Namun, sesekali kamu ini suka krasak--krusuk, tanya ini itu, ngobrol kesana kemari dan berisik sendiri. Well, ditegurlah kita karena ribut aja kerjaannya!
“Ssst, jangan kenceng-kenceng!” kata Mba Melinda yang ada di kursi seberang kiri belakang. Seketika kami melirihkan perbincangan. Sesiang itu, suasana training begitu ramai diwarnai canda tawa setiap peserta maupun kami. Apalagi ketika sesi saling memijat antar peserta. Jelas saja aku hanya diam. Sementara kamu, pura-pura seperti memijat dan aku sedikit meminggirkan badanku agar tidak tersenggol. Zzzzzz.
Aku merupakan alumni Young Trainer Academy (YTA) Batch 3 di Yogyakarta, sementara kamu, YTA Batch 4 Bogor dan Mas Dimas YTA Batch 2 Jakarta, dan kini kami bertiga dipertemukan di YTA Batch 6 Yogyakarta bukan lagi sebagai peserta training melainkan dengan sebutan Trainer Muda atau fasilitator YTA itu sendiri. Hari pertama training ini, seperti biasa, Mas Dhika a.k.a Maradhika Malawa membawakan materi training diawal yang kemudian di sesi berikutnya dilanjutkan oleh Mas Arry Rahmawan selaku founder CerdasMulia Institute, dan YTA adalah salah satu produknya. Materi seputar Introduction, How to Sell your name, Traning Design, Teknik Pengolahan Diri, dll dibawakan dalam training yang berlangsung 2 hari 1 malam ini.
Matahari mulai membenamkan sinarnya diantara pemandangan alam di depan villa yang berlokasi di Kaliurang, Yogyakarta. Tentu saja, hawa dingin mulai terasa. Peserta training mulai berhamburan keluar untuk coffee break dilanjutkan dengan stirahat untuk sholat Maghrib dan makan malam. Di sesi ini, para trainer membaur dengan peserta. Saling chit-chat pengalaman satu sama lain yang membuat suasana menjadi semakin akrab. Meja makan prasmanan telah tersedia di depan ruang aula beserta menu makan malam kali ini. Sayur sop dan galantin serta orak-arik tempe dan yang tidak boleh ketinggalan, sambal terasi serta kerupuk udang telah tersedia disana. Aaaah. Sedap! Namun aku memilih untuk mengurungkan makan dan kembali menuju kamar tidurku. Di kamar, sudah ada Mba Ulva dan Mba Melinda. Mba Ulva ini temanku sejak YTA 3, dan kini ia ikut lagi menjadi peserta namun kali ini membawa produknya, Elova batik yang menjadi wardrobe YTA 6, karena esok di hari kedua, dresscode kami mengenakan elva batik. Memang otak-otak bisnis nih Mba Ulva! Kece! :*
Aku beranjak menuju toilet untuk mengambil air wudhu. Brrrrrr, segar sekali airnya. Namanya juga daerah pegunungan, hihi. Aku segera menyusul Mba Melinda yang telah bersiap di kamar untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah. Kali ini, aku diminta menjadi imam. Mba Ulva menyusul di belakang. Aku melantunkan beberapa ayat surah Al mulk pada rakaat pertama dan kedua. Ku baca dengan lantunan versi Muhammad Thaha Junaydi, hafidz cilik dari Timur Tengah, salah satu murottal favoritku yang sangat membantuku untuk menghafal ayat demi ayat. Hingga rakaat ketiga usai, rupanya Mba Ulva baru memulai shalat maghribnya. Aku berdzikir seperti biasa dan memanjatkan doa pada Allah serta mensyukuri betapa baiknya Allah padaku.
Selama ini, aku selalu dipertemukan dengan banyak sekali permasalahan hidup yang sesekali membuatku terisak. Namun, ujian Allah-lah itulah yang telah menjadikanku sebagai wanita yang lebih tangguh menghadapi medan kehidupan di usia muda. Karena ujian-ujian itulah yang membuatku selalu bersemangat untuk meraih cita-citaaku. Aku telah menuliskan beberapa dreamlist, kurang lebih ada 50an lebih dreamlist yang ku tulis dan ditempelkan di tembok kamar kos ku. Salah satu dreamlist ku ialah menajadi Motivator Wanita No.1 di Indonesia. Dulu aku menuliskannya karena aku merasa saat aku menjadi tempat curhat teman-temanku, aku selalu bersemangat dan mencoba memberikan beberapa solusi hingga temanku menjadi kembali bersemangat. Mungkin bakat terpendam? Ah entah apa itu namanya, yang jelas Allah menuntun langkahku setelah aku menuliskannya. Menjadi peserta YTA 3 yang kala itu aku ingat betul hanya memiliki uang gaji menjadi guru les privat sekita 600.000 dan nekat membayar training sebesar 500.000. Sampai-sampai tekadku mengalahkan ketakutanku “sebulan besok makan apaan yak?”, maklum saja, sejak semester 1, ibuku hanya memberikan uang saku selama 1 bulan, selebihnya aku disuruh mencari sendiri. Selain agar anaknya mandiri, juga karena aku yang harus berbagi pada ke 3 adikku. Namun janji Allah memang pasti bahwa rezeki itu datang dari arah yang tidak terduga. Selepas pulang dari Yogya, uang PKM dari dikti cair dan alhamdulillah cukup untuk biaya hidup 1 bulan. Jalan Allah memang luar biasa.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan sesegera mungkin melipat mukena yang ku kenakan. Mba Mel masih belum beranjak dari tempatnya. Terlihat amat khusyu bahkan sampai aku bisa mendengar isak tangisnya. Pernikahannya dengan Mas Arry akan berlangsung bulan depan. Saat ku tanya “Kamu kenapa, Mba?”, singkat ia menjawab “Nanti kamu juga akan merasakan sendiri, hehe”. Aku tanpa ekspresi dan hanya bergumam lirih “Oh..”
*
*Nind Arfa
0

Jadi, Apa yang Harus aku lakukan?



Aku semakin tersentak dalam lamunanku saat melihat pemberitaan di media kini. Propaganda muslim yang kian di ombang-ambingkan. Pemutar balikan logika dimana yang benar menjadi salah, pun sebaliknya. Belum lagi, kekerasan pada anak yang semakin merajalela. Kasus korupsi yang semakin menjadi namun tidak berdaya dalam melakukan pemberantasan meski “katanya” itu adalah komisi yang berwenang.


Aku kembali membuka sejarah..

Nampaknya, hal ini sudah pernah terjadi dan bahkan memang tak pernah usai. Hanya saja, aku terlambat menyadarinya. Propaganda muslim itu, sudah ada sejak zaman rasulullah. Tatkala Kafir Quraisy yang tidak segan memboikot bani Hasyim dan bani Abdul Muthalib dalam melakukan perjual belian sehingga mereka sulit mendapat bahan makanan dan tinggal di celah-celah pegunungan batu. Bahkan hingga 3 tahun! Itu semua berawal dari musuh-musuh islam yang benci dengan dakwah rasulullah. Belum lagi, ancaman pembunuhan yang setiap hari kian dilontarkan dan perbuatan keji lainnya yang membuat umat muslim semakin menderita. 

Jika dahulu yang memaki umat muslim jelas-jelas musuh islam (kafir Quraisy), namun kini yang lebih menyakitkan lagi dimana yang menjauhkan muslim dengan agamanya adalah muslim itu sendiri. Ya Allah, sesak rasanya. Memang, semua itu berhasil diciptakan oleh propaganda yang telah dilontarkan berabad-abad silam dan berangsur meningkat seiring dengan lemahnya mental umat muslim yang semakin jauh dengan agamanya. 

Mungkin kita tak bisa merubah keadaan, namun kita masih bisa mengusahakan. Allah masih setia menunggu hambaNya yang senantiasa hendak kembali terhadap ajaran yang sesungguhnya. Ya, doa.
Namun, doa tanpa usaha itu mustahil. Masih ada yang bisa kita lakukan. Jika kita tak bisa merubah dunia, setidaknya kita masih bisa membentuk generasi penerus kita. Memperbaiki diri untuk mengantarkan generasi penerus perjuangan kelak. Senantiasa bersabar dalam berdakwah untuk menyampaikan kebenaran. Tidak melulu seputar pemenuhan diri, karena ada kewajiban yang harus kita penuhi. Menggigit erat jalan dakwah ini. Ya, prajurit Allah yang senantiasa membela kebenaran. Syaratnya? Tentu jadikan dirimu sebagai teladan. Perbaiki hubunganmu dengan Allah, dan laksanakan perintahNya dengan penuh semangat perjuangan.

0

#SEMBILAN BELAS - Pertemuan (1)



Malam ini adalah malam ke 284 kebersamaan kita. Meskipun raga kita kini tak sedang bersama, namun satu yang harus kau percaya bahwa aku selalu menganggapmu senantiasa disisiku. Bahkan selalu di genggamanku. Ya  lewat telepon seluler yang kau berikan untukku sebulan setelah pernikahan kita. “Ini, biar kamu nggak susah dihubungi karena perangkatmu yang kamu bilang sering error”, katamu. Aku terima saja dan tak lupa mengucapkan terima kasi, meskipun aku tahu harganya melebihi SPP kuliah satu semester. “Nggakpapa, mumpung ada rezeki. Toh kamu istriku. Kamu senang, aku lebih senang”. Ah, sejuk.
*
“BRUUUKKK...!!!”
Aku meletakkan tas ku dilantai, dan tak lupa untuk mengucapkan salam.
“Aniiiiinnnnn..!!” , teriakkan Mba Ulfa memekakan telinga. Segera aku menyambarnya dan saling bersalaman serta bersapa kecil.
 “Kamu lewat mana?”
“Aku tadi jalan dari Adi Sucipto, Mba. Nyasar-nyasar masuk-masuk gang. Gila!! Capek juga ternyata. Wkwkwkwk”
“Hah? Kamu jalan dari Adi Sucipto? Seriuuuss? Giilaaaa, jauh banget itu!”, sahut seorang laki-laki berjaket merah bertuliskan AC Milan di belakangnya.
“Nggak jauh banget sih. Orang di depan UIN situ kok”, kataku heran dengan pernyataan kagetnya.
“Oooohhh, ku kira dari bandara Adi Sucipto. Hahahaha”
“Ya kali dari bandara, udah jelas-jelas tau aku pake travel disambung transjogja”, batinku.
“Eh sebentar.. Masnya ini yang tadi pake jaket merah naik motor supra kan? Nggak pake helm kan tadi? Kayaknya aku tadi lihat deh. Cuma mau nyapa, tapi nggak yakin”
“Iya bener! Kok kamu tau? Kenapa nggak bilang aja sih? Tau gitu kan tadi dijemput aja kan. Kasian jalan kaki, nyasar-nyasar kan, bawaannya lumayan pula”.
Di awal pertemuan ini, aku tak banyak berkomentar. Sepertinya orang ini tak tahu kalau aku muslimah yang sangat sukar dibonceng lawan jenis. Tapi yang satu ini, rasanya percaya diri sekali ia jika aku mau dibonceng olehnya. Memangnya dia siapa? Huh. Eh, tapi tunggu sebentar, memangnya dia yang akan menjemputku? Belum tentu juga sih, mengingat disana pun ada beberapa lelaki dan peremuan. Pede sekali kamu ini, Nin!
“Masuk dulu, bersih-bersih di dalem”, kata Mba Ulfa memecah kebuntuan otak serta kegusaran hatiku yang mulai agak risih dengan bayaknya lelaki disekelilingku. Suasana yang sangat jarang ku dapati di kampus, apalagi di lingkungan anak-anak rohis.

*Nind Arfa


0

Untukmu Para Calon Ibu...



Kami tahu, kelak kewajiban kami adalah mendidik para penerus bangsa. 

Kami tahu, kelak kami akan disibukkan oleh pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, dan membersihkan rumah.

Dan kami tahu, tak sedikit dari kami yang masih ingin berkarya untuk bangsa dan agama serta mencari bekal untuk menghadapi problematika kehidupan kini dan kelak di akhirat nanti. 

Oleh karena itu, sekarang kami sadar, bahwa itu semua butuh persiapan. 

Persiapan mulai sejak sekarang! Belajar bagaimana untuk menjadi perempuan yang "multitasking". 

Belajar memilah pekerjaan yang kiranya pas untuk kami lakukan, serta tidak terlebur oleh gemerlapnya keindahan duniawi yang hanya sesaat. 

Tentunya dengan belajar menjadi muslimah secara menyeluruh (Kaffah) 

Aktif dalam berdakwah dimanapun berada. Mengenggam erat Al-Qur'an sebagai pedoman dan alasan mengapa kami harus tegak berdiri. 

Mengerti, bahwasannya kewajiban seorang wanita ialah menjaga kehormatannya demi sang suami kelak.
Memahami bahwa kelak akan menjadi tiang negara. 

Karena tahu betul bahwa dibalik kesuksesan seorang pria ialah adanya faktor kami, kaum wanita baik Ibu, maupun istrinya yang senantiasa mendukung mereka baik kala susah maupun senang. 

Tugas kami untuk memperteguh mereka menghadapi lika-liku kehidupan dengan segenap kasih sayang dan kelembutan serta perhatian. 

Juga demi para calon permata bangsa. Mereka yang kelak meneruskan tongkat estafet menuju peradaban dunia yang lebih baik. 

Dan semuanya berawal dari kami. Seorang Ibu..

Karena kami tak mau, kelak ketika anak kami bertanya "Ummi, kenapa Ummi tidak seperti Umminya teman-temanku?" 

Sungguh, yang kami harapkan ialah ketika anak-anak kami kelak berkata "Ummi.. Ummi adalah harta termahalku yang aku punya" .


***


Oleh karena itu, kawan muslimah semuanya, mari kita mulai menata diri, dan menyadari bahwa kelak kontribusi kita akan sangat berpengaruh. Oleh karena itu butuh waktu dan segera melakukan persiapan mulai dari sekarang. Mulai dari sesuatu yang terlihat seperti menutup aurat sesuai dengan ketentuan yang Allah anjurkan seperti dalam Q.S Al-Azhab:59. Sungguh, itu adalah awal mula untuk menentukan perilaku kita selanjutnya :)

0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com